KARAWANG, JEJAK HUKUM - Mahkota Binokasih, yang memiliki nama lengkap Binokasih Sanghyang Pake, adalah mahkota pusaka peninggalan Kerajaan Sunda/Pajajaran dari abad ke-14. Mahkota ini melambangkan kebesaran, kekuasaan, serta kasih sayang seorang raja. Nama "Binokasih" sendiri berasal dari frasa "bina kasih sayang", yang mencerminkan sosok pemimpin yang adil, bijaksana, dan mengayomi rakyat.
Sejarah dan Filosofi
Mahkota ini dibuat atas prakarsa Prabu Bunisora Suradipati (raja Galuh, 1057–1099, atau menurut sumber lain masa pemerintahannya 1357–1371). Mahkota ini digunakan dalam upacara pelantikan raja-raja Sunda hingga kerajaan runtuh. Ketika ibu kota Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran diserbu pasukan Banten pada 1579, mahkota berhasil diselamatkan oleh tiga pembesar kerajaan: Sayang Hawu, Térong Péot, dan Kondang Hapa. Mahkota kemudian dibawa ke Kerajaan Sumedang Larang dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun (1578–1601) sebagai simbol kelanjutan kekuasaan dan kejayaan Sunda.
Sejak saat itu, mahkota menjadi pusaka para raja Sumedang Larang hingga para bupati Sumedang. Pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih (1836–1882), mahkota ini mulai digunakan sebagai hiasan kepala pengantin dari keluarga bupati Sumedang.
Material dan Lokasi Penyimpanan
Mahkota asli terbuat dari emas murni 18 karat dengan berat sekitar 8 kg serta dihiasi batu giok dan permata. Saat ini, mahkota tersebut disimpan di gedung pusaka kompleks Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang, dalam lemari kaca segi delapan dengan pengamanan super ekstra. Replika mahkotanya dapat ditemukan di Museum Sri Baduga, Bandung.
Mahkota Binokasih bersama siger emas, ikat pinggang, serta aksesoris raja lainnya menjadi daya tarik utama pengunjung. Pengunjung rela berlama-lama untuk melihat mahakarya ini. Selain itu, di gedung yang sama juga terdapat berbagai senjata pusaka kerajaan seperti tombak, kujang, dan keris.
Kirab Budaya 2026
Sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, pada Mei 2026 akan diadakan kirab mahkota di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Ciamis, Cianjur, Garut, Bogor dan Karawang. Mahkota Binokasih diakui sebagai salah satu artefak terpenting dalam sejarah Sunda, yang melambangkan jati diri, persatuan, dan warisan agung budaya Sunda. (Red)


