ANTALYA, TURKI | JEJAK HUKUM – Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pasca serangan Iran terhadap Israel serta agresi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Qatar mendorong empat negara dengan populasi Muslim terbesar ~ Pakistan, Mesir, Turki (Turkiye), dan Arab Saudi ~ untuk membentuk pakta pertahanan bersama yang dijuluki sebagai "NATO versi Muslim".
Kesepakatan ini muncul sebagai respons kolektif terhadap kegagalan diplomasi PBB dan melemahnya kepercayaan terhadap penjamin keamanan eksternal seperti Amerika Serikat. Serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025 menjadi titik balik yang membuat negara-negara kawasan menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel.
Bobot Strategis dan Kekuatan Aliansi
Secara kolektif, keempat negara memiliki populasi gabungan mencapai lebih dari 500 juta jiwa dan total PDB sebesar 3,87 triliun dolar AS. Masing-masing negara membawa keunggulan strategis: Turki unggul dalam teknologi pertahanan, Arab Saudi sebagai sumber pendanaan, Mesir memiliki posisi geografis strategis, dan Pakistan membawa kemampuan nuklir.
Aliansi ini dirancang tidak hanya untuk mengimbangi kekuatan militer Israel dan merespons isu "Israel Raya", tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan negara-negara Muslim terhadap aliansi keamanan tradisional seperti NATO yang didominasi Amerika Serikat dan Eropa.
Koordinasi yang Semakin Intensif
Keseriusan wacana ini ditandai dengan latihan militer gabungan pasukan khusus Mesir dan Pakistan yang sedang berlangsung dengan koordinasi jauh lebih intensif dibanding sebelumnya. Selain itu, pertemuan para menteri luar negeri di Antalya Diplomacy Forum, Turki, pada 17 April 2026 turut mengonfirmasi bahwa keempat negara tengah merancang pengaturan keamanan regional pasca-perang.
Meskipun belum ada pernyataan resmi secara terbuka, sumber diplomatik yang dikutip Reuters menyebut pembahasan awal telah dilakukan di tingkat menteri pertahanan.
Tantangan yang Dihadapi
Pembentukan aliansi ini masih menghadapi sejumlah tantangan besar, antara lain:
✓ Sejarah keretakan diplomatik antara Ankara, Riyadh, dan Kairo yang baru pulih dalam beberapa tahun terakhir.
✓ Ketergantungan militer Mesir dan Arab Saudi terhadap Amerika Serikat.
✓ Proses penyamaan visi pertahanan keempat negara yang membutuhkan waktu.
Namun demikian, analis politik Turki, Firas Ridvan Oglu, berpendapat bahwa Washington kemungkinan akan menoleransi koalisi ini jika mampu mencegah perang regional yang lebih besar. Konsep "NATO versi Muslim" ini berbeda dengan Islamic Military Counter Terrorism Coalition (IMCTC) yang sudah ada sebelumnya dan lebih berfokus pada kontra-terorisme.
Seiring berjalannya waktu dan berkaca pada perkembangan geopolitik, aliansi ini masih dalam tahap awal penggodokan, namun dinilai sebagai langkah serius untuk menciptakan keseimbangan kekuatan baru di Timur Tengah serta sinyal bahwa negara-negara Muslim mulai mengambil sikap proaktif untuk pertahanan mereka sendiri. (Red)


