KARAWANG, JEJAK HUKUM – Piala Dunia 2026 kembali diwarnai kontroversi yang melibatkan Iran. Kali ini, Teheran dituding menggunakan sistem sepak bola nasional sebagai alat pengawasan dan pengumpulan intelijen terhadap warga negaranya, termasuk memantau potensi kerusuhan di stadion.
Dikutip dari Fox News, Kamis (11/6), tuduhan tersebut muncul dalam laporan terbaru yang dirilis oleh National Council of Resistance of Iran (NCRI), kelompok oposisi utama pemerintah Iran, di Amerika Serikat. Garda Revolusi Iran (IRGC) diduga telah menyusup secara sistematis ke dalam federasi sepak bola dan klub-klub profesional di Iran.
Menurut NCRI, sedikitnya 15 komandan IRGC teridentifikasi menduduki posisi manajemen di berbagai klub sepak bola dan institusi terkait olahraga tersebut. Kelompok oposisi itu menilai keterlibatan aparat keamanan dalam pengelolaan sepak bola telah mengubah olahraga paling populer di Iran menjadi bagian dari jaringan pengawasan negara.
Dalam laporannya, NCRI mengutip sejumlah dokumen internal keamanan Iran yang diklaim berasal dari Dewan Keamanan Provinsi Teheran tahun 2025 serta rencana keamanan Markas Sarallah tahun 2024. Dokumen itu disebut menunjukkan adanya penggunaan teknologi pengenalan wajah (facial recognition) di sejumlah stadion besar Iran, termasuk Stadion Azadi, Takhti, dan Shahr-e Qods.
Selain itu, sistem penjualan tiket disebut terhubung langsung dengan basis data identitas nasional warga Iran, sehingga aparat dapat mengetahui identitas setiap penonton yang hadir di stadion. Tak hanya itu, laporan tersebut juga menuding adanya pemetaan posisi duduk penonton berdasarkan nomor identitas nasional, pemantauan terhadap pimpinan kelompok suporter, hingga penempatan unit respons cepat keamanan di dalam area stadion.
NCRI menilai langkah-langkah tersebut bukan semata untuk menjaga keamanan pertandingan, melainkan bagian dari strategi pengawasan terhadap masyarakat. Dalam salah satu dokumen yang dikutip, aparat keamanan Iran disebut memandang stadion sebagai lokasi yang berpotensi menjadi titik awal munculnya aksi protes dan kerusuhan.
"Sangat penting bagi badan keamanan, intelijen, dan penegak hukum untuk memanfaatkan kamera pengawas di Kompleks Azadi selama pertandingan karena selalu ada potensi insiden keamanan yang tidak dapat diprediksi. Sangat mungkin kerusuhan dan gejolak sipil di masa depan berasal dari stadion olahraga," demikian isi dokumen yang dikutip NCRI.
Laporan itu muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap Iran menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebelumnya, hubungan Iran dengan penyelenggara turnamen juga menjadi perhatian setelah sejumlah pejabat Iran dilaporkan mengalami kendala visa untuk masuk ke AS. Suporter Iran pun menghadapi berbagai hambatan untuk memperoleh akses menyaksikan langsung pertandingan tim nasional mereka.
Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran maupun federasi sepak bola negara tersebut terkait tuduhan NCRI.
Apabila tuduhan tersebut terbukti, kasus ini berpotensi menimbulkan pertanyaan serius mengenai independensi sepak bola Iran serta kepatuhannya terhadap aturan FIFA yang melarang campur tangan politik dan aparat keamanan dalam pengelolaan organisasi sepak bola. (Red)
