DEPOK, JEJAK HUKUM – Penulis asal Kota Depok, Ahmad Bahar, kembali meluncurkan buku biografi politik berjudul "Kang Dedi Mulyadi Kapan Jadi Presiden" di kawasan Tugu, Cimanggis, Kota Depok, Jumat (19/6/2026).
Peluncuran buku setebal 140 halaman ini menjadi momentum penting bagi sang penulis, yang menyampaikan sindiran satir kepada pendukung Gubernur Jawa Barat tersebut. Sindiran itu menyusul dorongan agar KDM maju sebagai Calon Presiden 2029 atau periode mendatang, di tengah ramainya isu kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta aksi demo mahasiswa Reformasi Jilid II.
Ahmad Bahar menyatakan bahwa melalui buku ini, ia ingin mengajak masyarakat untuk menerjemahkan sekaligus menebak sendiri peluang wacana KDM menjadi presiden. Namun, dengan gaya tulisan yang digunakan, penulis berusaha mengedepankan keseimbangan antara sudut pandang penggemar dan non-penggemar.
"Saya mempunyai dua kesimpulan dan itu kita serahkan kepada penggemar dan non-penggemar. Kalau bagi penggemar, tentu menarik jika kita wacanakan kapan Kang Dedi mau jadi presiden. Tapi bagi pembenci, justru sebaliknya. Saya bukan termasuk pembenci, saya di tengah. Tapi kalau saya ditanya kapan KDM jadi presiden? Jawabannya ya kapan-kapan saja," ujar Ahmad Bahar kepada awak media.
Lebih lanjut, Ahmad Bahar menjelaskan bahwa dalam buku ini ia juga membahas kriteria dan persyaratan untuk menjadi calon presiden Indonesia berdasarkan riset pribadinya. Menurutnya, apabila semua persyaratan itu ditujukan kepada KDM, Gubernur Jawa Barat tersebut baru memenuhi dua dari sembilan syarat—masih jauh dari kriteria capres versi penulis.
"Jadi isi buku ini membahas syarat jadi presiden di Indonesia. Kalau ada sembilan syarat, KDM baru memenuhi dua—tentu versi penulis ya. Bagi yang tidak sepakat, silakan menulis buku lebih tebal dari ini, jangan kemudian diborong dan dilarang terbit lagi," tegasnya.
Ahmad Bahar menilai masyarakat Indonesia belum membutuhkan sosok presiden bergaya KDM yang dinilainya masih cenderung berpikir pada persoalan lokalitas, kesundaan, dan kedaerahan Jawa Barat.
"Belum ada pemikiran dari KDM bagaimana negeri ini di tengah pergaulan dunia. Jadi jika pendukungnya mendorong KDM sebagai calon presiden 2029, boleh-boleh saja, tapi hanya sebatas wacana. Menurut penulis, KDM baru pantas sebatas menjadi menteri," tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa di era demokrasi, setiap warga negara Indonesia berhak memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin, baik di negara maupun lembaga lainnya. Namun, semuanya kembali kepada masyarakat yang memilih.
"Setiap kita punya peluang. Karena semua pemimpin akan mati, tinggal siapa yang menggantikan generasi selanjutnya. Jadi pembaca dapat menjawab dua pilihan tadi—apakah KDM punya peluang atau tidak?" terangnya.
Saat disinggung apakah buku itu juga menyoroti peran konten media sosial yang turut mendongkrak popularitas KDM, Ahmad Bahar tidak menampik bahwa ia turut menulis tentang tren tersebut.
"Ada, istilahnya 'Gubernur Konten'. Kalau kita lihat, di kepala Kang Dedi itu yang dicari harus viral. Jadi bukan kepada hasilnya seperti apa," ujarnya.
Menurutnya, tren viral di media sosial tidak bisa dijadikan andalan bagi seorang pemimpin negara untuk membangun popularitas. Ia menilai bahwa seorang pemimpin tidak boleh hanya mengejar jutaan penggemar melalui konten visual tanpa mengedepankan kepentingan pihak-pihak terkait.
"Seorang pemimpin negara tidak bisa begitu, bisa rusak negara ini. Apalagi yang dicari terus viral, repot jadinya. Padahal harus ada perencanaan daerah jangka pendek dan panjang, serta target yang jelas. Ini kan tidak setiap ketemu persoalan baru langsung diviralkan, diselesaikan, tanpa tahu hasil selanjutnya. Hancur nanti sesuatu yang mungkin sudah terencana dan terbangun," bebernya.
Buku ini dicetak sebanyak 10 ribu eksemplar. Penulis sekaligus mengajak masyarakat untuk kembali memaknai literasi, terutama bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi media sosial.
"Selanjutnya kami akan road show se-Jawa Barat dalam rangka dua kepentingan: mengenalkan karya buku dan bersedekah ilmu, berbagi pengalaman kepada pihak yang tertarik. Di setiap kabupaten atau kota, kami akan adakan pelatihan menulis gratis agar bisa mencetak generasi penulis," pungkasnya. (Red)
