• Jelajahi

    AlekSafriGROUP © JEJAK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG MEDIA ONLINE MATAZAHWA

    JEJAK HUKUM

    Selamat Berkunjung - Media Online - JEJAKHUKUM.COM - Akurat ,Tegas Dan Terpercaya

    Dulu Bersaing, Kini Bersinergi: Ilham Habibie dan KDM Kolaborasi Benahi Transportasi Jabar

    Rabu, 21 Oktober 2026, Oktober 21, 2026 WIB Last Updated 2026-10-20T18:41:05Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    BANDUNG, JEJAK HUKUM — Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang dipimpin Ilham Akbar Habibie, putra Presiden RI ke-3, bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah Gubernur Dedi Mulyadi resmi menjalin kolaborasi strategis untuk penataan transportasi massal perkotaan. Komitmen tersebut diresmikan dalam rangkaian Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 di Hotel Pullman, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).


    Kolaborasi ini menjadi menarik karena pada Pilgub Jawa Barat 2024, Ilham Habibie sempat menjadi lawan politik Dedi Mulyadi. Ilham maju sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Barat berpasangan dengan Akhmad Syaikhu yang diusung PKS, sementara Dedi Mulyadi berpasangan dengan Erwan Setiawan. KPU Jawa Barat menetapkan pasangan nomor urut 4, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, sebagai pemenang dengan 638.500 suara. Pasangan nomor urut 3, Akhmad Syaikhu-Ilham Habibie, memperoleh 127.216 suara; pasangan nomor urut 2, Jeje Wiriadinata-Ronal Surapradja, 94.304 suara; dan pasangan nomor urut 1, Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwinatarina, 55.531 suara.



    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyambut positif kolaborasi antara Pemprov Jabar dan PII dalam urusan transportasi. Menurutnya, kemacetan di sejumlah wilayah perkotaan Jawa Barat disebabkan oleh perencanaan yang tidak tepat.


    “Pertemuan ini merupakan sebuah kontemplasi bagi kita untuk bagaimana engineering itu bukan hanya pada hal yang bersifat global dan besar, tetapi menyangkut aspek yang bersifat teknis kerakyatan dalam setiap waktu. Misalnya, kenapa sih di Kota Bandung kemacetan terjadi, berarti secara engineering perencanaannya tidak tepat,” kata Dedi seusai membuka gelaran CAFEO, Selasa siang.



    Dedi menambahkan, pembenahan transportasi wajib dilakukan di Jawa Barat untuk menekan angka kemacetan di kota-kota besar. Namun, ia menegaskan pembenahan itu tidak boleh menghilangkan pekerjaan para sopir angkutan umum.


    “Kemacetan di kota-kota di Jawa Barat hari ini tumbuh. Salah satunya adalah transportasinya yang belum tertata dengan baik. Tetapi juga kita tidak boleh menggusur pekerjaan orang, sopir,” ucapnya.


    Dedi pun berharap PII dapat membantu Pemprov Jawa Barat menyusun perencanaan agar transportasi publik yang sudah tidak laik jalan diganti dengan moda transportasi baru tanpa menghilangkan pekerjaan sopir. Salah satu tawaran yang disampaikannya adalah mengganti angkutan umum tua milik sopir dengan mobil baru.


    “Salah satu tawaran saya adalah bagaimana para sopir angkutan umum yang ada tuannya dan sudah tua-tua mobilnya, itu nanti diganti dengan mobil baru. Mereka adalah pemiliknya, tidak usah lagi setor kepada tuannya, tetapi dibuat karakter wilayah. Mobilnya ramah lingkungan, ramah anak, ramah ibu hamil, kemudian juga bisa memberikan kesejahteraan bagi para sopir. Ini nanti salah satu pilot project yang akan dikerjakan bersama dengan PII,” jelas Dedi.


    Di tempat yang sama, Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie menyatakan komitmen PII untuk membantu Pemprov Jawa Barat mengurai berbagai problematika krusial di seluruh daerah, terutama urusan transportasi massal.


    “Kami sudah banyak berbincang dengan Bapak Gubernur dan insya Allah PII akan mendukung sepenuhnya bagaimana Jawa Barat bisa menyelesaikan masalah serta tantangan ke depan, khususnya di bidang transportasi umum,” kata Ilham.


    Menanggapi keinginan Dedi soal transportasi model baru, Ilham menyebut sarana transportasi tersebut akan mengadopsi platform sasis dan mesin listrik yang tersertifikasi secara nasional. Namun, desain eksteriornya akan disesuaikan dengan kearifan dan karakteristik budaya masing-masing daerah di Jawa Barat, seperti Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, hingga kawasan perdesaan.


    Standarisasi platform dinilai mampu menekan ongkos produksi, sementara kemudahan perawatan di tingkat lokal diproyeksikan menggerakkan roda ekonomi bengkel dan industri perakitan setempat.


    “Bussiness concept-nya telah diubah. Jadi para pengemudi angkot itu ke depan mereka juga menjadi kayak UKM, dia akan memiliki sendiri. Selain dari itu, juga konsep daripada wahana transportasi sendiri juga harus kita ubah. Bayangan saya, biarpun desainnya belum tuntas, itu adalah wahana elektrik. Jadi itu ada elektrifikasi daripada angkot, dan ada semacam standardisasi. Jadi di mana-mana itu platformnya sama, tapi nanti bentuk daripada angkotnya bisa berbeda-beda,” tandas Ilham.


    Dalam pembukaan CAFEO ke-44, Ilham juga menilai insinyur memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas produk dan daya saing industri. Penguasaan teknologi disebutnya menjadi salah satu penentu kemajuan suatu negara.


    “Insinyur itu sedikit mirip dengan koki di restoran. Tanpa koki, makanan tidak akan memiliki cita rasa khas. Begitu pula industri, membutuhkan insinyur untuk menghasilkan produk berkualitas,” ujar Ilham.


    Menurutnya, Bandung menjadi tempat yang tepat untuk penyelenggaraan CAFEO ke-44 karena memiliki tradisi pendidikan, kreativitas, dan inovasi, serta perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang berkontribusi terhadap perkembangan sains dan teknologi. Ia menyebut lima dari sepuluh industri strategis Indonesia berada di Jawa Barat; jika wilayah Banten sebelum pemekaran turut diperhitungkan, jumlahnya mencapai enam industri.


    “Bandung merupakan salah satu pusat teknologi, inovasi, dan rekayasa di Indonesia karena industri strategis tersebut sangat berorientasi pada teknologi,” katanya.


    CAFEO ke-44 mengusung tema Future of ASEAN: Shared Prosperity and Humanity Through Inclusive and Sustainable Industrialisation, yang menekankan pentingnya industrialisasi inklusif dan berkelanjutan. Ilham mengingatkan bahwa kemajuan industri tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga harus memperhatikan lingkungan dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.


    “Kemajuan sejati harus inklusif, berkelanjutan, dan berpusat pada manusia. Apa yang kita bangun hari ini harus membuka peluang bagi masa depan, melindungi lingkungan, dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” ujarnya.


    Ia berharap CAFEO ke-44 menghasilkan kemitraan dan solusi nyata bagi kawasan ASEAN, termasuk melalui pemberdayaan insinyur muda.


    “Keberhasilan kita tidak boleh diukur dari apa yang dibahas selama tiga hari ini, tetapi dari apa yang berhasil kita capai bersama setelah CAFEO 44,” kata Ilham. (Red)


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya ?&max-results=10'>+