YAMAN UTARA, JEJAK HUKUM – Kelompok Houthi di Yaman kembali memicu ketegangan regional dengan menyatakan sikap tegas untuk tidak netral dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Para pemimpin kelompok ini bahkan mengancam akan melakukan intervensi militer langsung jika eskalasi terus berlanjut.
Peringatan dari Puncuk Pimpinan Houthi
Pemimpin tertinggi Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, dalam pidatonya yang disiarkan televisi Al-Masirah pada Kamis (26/3/2026), menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan mengambil posisi netral. Ia menyatakan kesiapan untuk merespons setiap perkembangan di lapangan dengan tindakan militer.
“Kami tidak netral. Posisi kami lahir dari rasa memiliki terhadap Islam dan persaudaraan bangsa,” ujar Abdul-Malik. “Setiap perkembangan di lapangan akan kami tanggapi dengan tindakan militer jika diperlukan, seperti putaran sebelumnya.”
Tudingan Rencana Zionis dan Dampak Global
Dalam pidatonya, Abdul-Malik menilai serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Ia menuding kedua negara memiliki agenda geopolitik untuk mengubah peta kekuatan Timur Tengah demi mewujudkan proyek “Israel Raya”.
Ia juga menyoroti dampak luas konflik, tidak hanya terhadap stabilitas kawasan tetapi juga terhadap ekonomi global, termasuk keamanan jalur perdagangan internasional dan stabilitas harga energi.
Posisi Militer Yaman: Jari di Pelatuk
Pernyataan serupa juga datang dari Angkatan Bersenjata Yaman. Dalam pernyataan resmi, militer Yaman menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi langsung dengan kondisi “jari di pelatuk” jika konflik meluas. Mereka menyebut kesiapan ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan agama untuk mendukung Iran, Palestina, dan negara-negara poros perlawanan lainnya.
Militer Yaman menetapkan beberapa kondisi yang akan memicu intervensi mereka:
✓ Adanya negara lain yang bergabung dengan AS dan Israel dalam menyerang Iran.
✓ Penggunaan Laut Merah sebagai jalur operasi militer terhadap negara-negara Muslim.
✓ Terjadinya eskalasi konflik yang terus berlanjut.
Latar Belakang dan Potensi Eskalasi
Kelompok Houthi, yang didukung Iran dan telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman termasuk ibu kota Sanaa sejak 2014, memiliki posisi strategis di dekat jalur pelayaran Laut Merah. Sebelumnya, kelompok ini telah melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta kapal-kapal di perairan tersebut sebagai respons atas operasi militer di Jalur Gaza.
Konflik terkini dipicu oleh serangan udara AS dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran membalas dengan menyerang aset-aset militer AS di Yordania, Irak, dan sejumlah negara Teluk.
Para analis menilai bahwa keterlibatan Houthi secara langsung berpotensi memperluas skala perang proksi di Timur Tengah, membuka front pertempuran baru di Laut Merah, serta memperparah krisis logistik dan energi global yang sudah berada dalam kondisi kritis. (Red)




