WASHINGTON, JEJAK HUKUM — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk ikut serta dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak dunia. Seruan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak internasional. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi global mendorong Washington mendesak sekutunya untuk turut ambil bagian dalam misi pengamanan kawasan tersebut.
Namun, ajakan Amerika Serikat itu tidak sepenuhnya mendapat respons positif. Sejumlah negara justru terlihat enggan untuk terlibat langsung dalam misi pengamanan tersebut. Pengamat hubungan internasional menilai langkah AS mencerminkan upaya untuk membagi beban keamanan global kepada sekutu-sekutunya, dilansir dari kanal Youtube Kompas,com (17/3).
"Ini bukan sekadar isu keamanan maritim, tetapi juga soal kepentingan geopolitik dan ekonomi yang sangat kompleks," ujar seorang analis kebijakan luar negeri.
Negara-Negara yang Menolak Ajakan AS
Beberapa negara sekutu dilaporkan memilih bersikap hati-hati dan belum berkomitmen untuk terlibat langsung. Berikut adalah negara-negara yang disebut enggan serta-merta menurut:
Jerman: Pemerintah Jerman secara terbuka menyatakan keraguan mereka. Berlin menilai bahwa pendekatan yang dilakukan AS saat ini, terutama setelah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA), justru dapat meningkatkan eskalasi ketegangan, bukan meredakannya.
Prancis: Sikap serupa juga ditunjukkan Prancis. Paris lebih memilih untuk fokus pada upaya diplomatik dan de-eskalasi secara mandiri di kawasan. Mereka menganggap misi militer yang dipimpin AS berisiko memperburuk situasi.
Jepang: Sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Teluk, Jepang sebenarnya memiliki kepentingan besar di Selat Hormuz. Namun, karena hubungan baiknya dengan Iran, Tokyo enggan bergabung dalam koalisi yang secara terang-terangan bersifat ofensif terhadap Teheran. Mereka lebih memilih jalur diplomasi.
Korea Selatan: Mirip dengan Jepang, Korea Selatan juga memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Iran. Kekhawatiran akan terlibat dalam konfrontasi langsung membuat Seoul berpikir ulang untuk mengirimkan pasukan atau aset militernya di bawah komando AS.
Faktor di Balik Keengganan Sekutu
Keengganan negara-negara tersebut dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya:
Ketidakpercayaan pada Strategi AS: Kebijakan "tekanan maksimum" Trump terhadap Iran dinilai kontraproduktif. Alih-alih menciptakan keamanan, langkah AS justru dianggap sebagai pemicu instabilitas dan ketegangan baru.
Kekhawatiran Risiko Konflik: Keterlibatan militer di kawasan yang rawan konflik dinilai dapat memicu eskalasi ketegangan, bahkan berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah. Banyak negara tidak ingin terseret dalam konflik terbuka yang dampaknya bisa meluas, baik secara militer maupun ekonomi.
Keinginan Menjaga Hubungan dengan Iran: Banyak negara, terutama di Asia, memiliki kepentingan ekonomi dan diplomatik yang besar dengan Iran. Bergabung dalam koalisi AS dapat merusak hubungan tersebut.
Prioritas pada Jalur Diplomatik: Sebagian besar negara Eropa lebih percaya pada solusi diplomasi dan negosiasi dibandingkan show of force militer untuk menyelesaikan krisis.
Dinamika Hubungan Internasional
Pengamat hubungan internasional menilai perbedaan sikap antarnegara ini mencerminkan dinamika global yang semakin kompleks, terutama terkait peran Amerika Serikat dalam menjaga keamanan jalur perdagangan internasional. Penolakan de facto ini menjadi pukulan telak bagi upaya Washington untuk mengisolasi Iran di kancah internasional.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun pengaruh AS masih besar, sekutu-sekutunya tidak lagi secara otomatis mengikuti setiap kebijakan luar negeri yang diusung, terutama jika dinilai dapat memicu konflik lebih luas di kawasan yang sudah rapuh.
Hingga kini, belum ada keputusan bersama dari negara-negara sekutu mengenai langkah konkret dalam merespons seruan tersebut. Situasi di kawasan Selat Hormuz pun masih terus menjadi perhatian utama dunia internasional mengingat perannya yang krusial dalam menjaga stabilitas pasokan energi global. (Red)
