KARAWANG, JEJAK HUKUM - Momen pelantikan Rektor baru Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang yang seharusnya berlangsung khidmat justru diwarnai ketegangan. Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang kampus, mengecam dugaan intimidasi yang dilakukan oknum dosen terhadap organisasi mahasiswa (ormawa).Massa aksi yang memadati area kampus menuntut reformasi sistem pendidikan di internal UBP. Mereka menilai, iklim demokrasi di kampus tersebut mulai tergerus oleh kebijakan yang membatasi ruang gerak intelektual mahasiswa.Baca artikel detikjabar, "Riuh Pelantikan Rektor UBP Karawang, Mahasiswa Protes Dugaan Intimidasi"
Koordinator aksi, Kelvin, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap manajemen kampus. Ia berharap UBP Karawang bisa kembali ke khitahnya sebagai wadah pencetak agen perubahan, bukan tempat pembungkaman aspirasi."
Kami harap UBP Karawang sebagaimana namanya, Universitas Buana Perjuangan, sudah seharusnya kampus menjadi epicentrum dalam perubahan sosial. Maka teman-teman mahasiswa, baik itu pemuda maupun pelajar, ketika menginginkan ruang dialektis, aktivitas akademis, ilmiah, tanpa kebijakan yang membatasi, dan tindakan intimidatif oknum dosen," ujar Kelvin saat diwawancara di sela aksi di Jalan HS Ronggowaluyo, Karawang, Kamis (9/4/2026).
Kelvin memaparkan, kampus seharusnya menjadi laboratorium intelektual yang mendukung penuh daya kritis mahasiswa dalam mengadvokasi masyarakat. Namun, realita di lapangan justru dianggap berbanding terbalik. Ia bahkan menyoroti adanya dugaan tekanan dari pihak yayasan."
Untuk membicarakan keadaan bangsa, keadaan masyarakat, seharusnya kampus sangat mendukung kegiatan ini. Karena memang seharusnya kampus sebagai tempat laboratorium intelektual menentukan kebijakan, mengkritisi kebijakan, dan mengadvokasi masyarakat. Namun yang terjadi adalah intimidasi dari pihak yayasan kepada mahasiswa," kata dia.
Berdalih menjaga ketertiban dan keamanan, pihak kampus sempat memanggil mahasiswa yang sedang berdiskusi. Namun, bukannya diberi ruang, mereka mengaku justru mendapat intimidasi penuh ancaman.
"Kami sering mengadakan diskusi di kampus terkait pergerakan, dan pihak kampus memanggil kami dengan dalih menjaga ketertiban, namun ketika kami dipanggil, kami diintimidasi penuh dengan ancaman, hingga berencana melaporkan kami ke ranah pidana akibat aktivitas pergerakan mahasiswa di kampus yang seharusnya jadi ruang diskusi intelektual," imbuhnya.
Hal itu, kata Kelvin, dirasakan oleh hampir semua ormawa di kampus UBP. Saat mahasiswa ingin berkreasi dan berdiskusi, pihak kampus justru dinilai membatasi ruang berkumpul dan bersikap tertutup.
Aksi ini menjadi akumulasi kecewaan kami, sebagai mahasiswa, kita unjuk rasa didasari intimidasi, pembungkaman, ruang yang tertutup. Hingga kita aksi hari ini pun meminta ada ruang untuk diskusi, dialog, tapi pihak kampus yang seharusnya lebih pintar tidak mau menerima kami sebagai mahasiswa," ucap Kelvin.
Aksi ini juga menyoroti sikap birokrasi kampus yang dianggap enggan membuka ruang dialog secara terbuka. Mahasiswa menyayangkan sikap para petinggi kampus yang dinilai menghindari diskusi langsung dengan massa.
Kelvin mengungkap, mahasiswa sengaja menggelar aksi saat pelantikan rektor baru karena menaruh harapan besar pada pimpinan tertinggi kampus yang baru saja dilantik tersebut. Mereka mendesak perbaikan menyeluruh, mulai dari dukungan anggaran ormawa hingga kemudahan perizinan kegiatan."
Momen yang tepat pada saat pelantikan Rektor baru ini, semoga bisa mereformasi UBP Karawang, support segala aktivitas Ormawa dari mulai anggaran, izin, hingga segala hal yang diperlukan untuk Ormawa berkreativitas membesarkan nama UBP Karawang. Karena ketika UBP Karawang seperti ini terus, bukan tidak mungkin akan kalah saing dengan kampus-kampus lain. Rektor baru harus bertanggung jawab atas PR-PR lama kepada Ormawa, alumni, maupun mahasiswa," tegasnya.
Rektor Janji Temui Mahasiswa
Sementara itu, Rektor Universitas Buana Perjuangan Karawang, Budi Rismayadi, menuturkan bahwa pihaknya belum sempat menemui mahasiswa karena rangkaian agenda pelantikan yang sangat padat.
"Tadi saya tidak sempat menemui rekan-rekan mahasiswa karena memang rangkaian acara pelantikan yang cukup padat, setelah selesai acara pelantikan rektor rekan-rekan mahasiswa juga sudah selesai unjuk rasa," ujar Budi saat dihubungi melalui pesan Whatsapp.
Kendati demikian, sebagai nakhoda baru UBP, Budi memastikan telah merencanakan agenda dialog dengan perwakilan organisasi mahasiswa dalam waktu dekat.
"Saya sebagai rektor baru memang merencanakan akan menggelar dialog dengan perwakilan organisasi kemahasiswaan dilingkungan UBP Karawang, untuk waktunya nanti kita jadwalkan," pungkasnya. (Han)


