• Jelajahi

    AlekSafriGROUP © JEJAK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG MEDIA ONLINE MATAZAHWA

    JEJAK HUKUM

    Selamat Berkunjung - Media Online - JEJAKHUKUM.COM - Akurat ,Tegas Dan Terpercaya

    279 Peserta dari 14 Negara Siap Berlaga, Indonesia Bidik Tiga Gelar di Polytron Surabaya IC 2026

    Selasa, 22 September 2026, September 22, 2026 WIB Last Updated 2026-09-21T19:37:16Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    SURABAYA, JEJAK HUKUM — Ada sesuatu yang berbeda dari sorot mata Mulyo Handoyo, sang Pelatih ganda putra Indonesia, ketika berbicara tentang turnamen bulutangkis yang akan bergulir di GOR Sudirman, Surabaya. Bukan sekadar target angka, melainkan sebuah pertaruhan gengsi di hadapan publik sendiri.


    Polytron Surabaya International Challenge 2026, yang akan digelar 22-27 September, menjadi panggung pembuktian bagi tim Indonesia. Ambisi itu terucap jelas: minimal tiga gelar, dan jika keberuntungan berpihak, gelar juara umum kembali menghiasi lemari trofi PBSI.


    "Untuk target kita minimal sama dengan kemarin di Pontianak. Kalau bisa menyamai kemarin bisa dapat tiga gelar dan bisa juara umum," ujar Mulyo, Senin (21/9/2026), dengan nada yang tidak sekadar formalitas.


    Ketika Dua Bintang Bersatu


    Di balik target itu, tersimpan sebuah eksperimen menarik yang tengah diuji. Bagas Maulana, yang namanya melambung lewat gelar All England di sektor ganda putra, kini harus melebur dengan Apriyani Rahayu, peraih emas Olimpiade di ganda putri. Dua dunia yang berbeda, dipaksa bertemu di lapangan ganda campuran.


    Mulyo tidak menampik tantangan ini. Namun, ia melihat modal berharga yang jarang dimiliki pasangan baru: pengalaman bertarung di level tertinggi.


    "Untuk Bagas yang berpasangan dengan Apri, memang segera chemistry untuk didapatkan. Mereka bukan pemain baru tapi sudah punya banyak pengalaman, sudah melanglangbuana," katanya, menyiratkan keyakinan bahwa adaptasi bukanlah hal mustahil bagi dua nama besar.


    Bagi Bagas sendiri, chemistry itu ternyata tidak perlu waktu lama untuk tumbuh. Komunikasi mengalir lancar, mungkin karena keduanya berada di fase usia yang sama.


    "Untuk saya pribadi, dengan Apriyani Rahayu chemistry kami sangat bagus, komunikasinya juga bagus. Kami juga suka bercanda karena kebetulan kami juga seumuran," ungkapnya, menyiratkan suasana ringan yang kontras dengan tekanan turnamen.


    Namun, Bagas tahu bahwa di balik keceriaan itu, ada pelajaran pahit yang harus dicerna. Kekalahannya dari pasangan Dejan Ferdinansyah/Apriyani Rahayu di Pontianak menjadi cermin bahwa ganda campuran menuntut pemahaman teknis yang berbeda. Beruntung, ada Indah Cahya Sari Jamil yang memberinya arahan teknis.


    "Saya juga masih belajar banget di ganda campuran," akuinya jujur, sebuah kerendahan hati yang justru menunjukkan keseriusannya.


    Mimpi yang Belum Terwujud


    Sementara Bagas berkutat dengan adaptasi, Dendi Triansyah datang dengan misi pribadi yang belum tuntas. Gelar juara di level International Challenge adalah lubang dalam catatan kariernya yang ingin segera ia tutup.


    "Di pertandingan kali ini saya ingin mendapatkan gelar juara, karena saya belum pernah mendapatkan gelar di level International Challenge," tegasnya.


    Dendi tidak naif. Ia tahu bahwa lawan terberat bukan selalu yang memiliki nama besar, melainkan mereka yang punya karakter permainan serupa dengannya. Tipe lawan yang memaksa ia menguras tenaga, menguji bukan hanya fisik, tapi juga ketenangan mental.


    "Pemain yang saya waspadai ialah yang satu tipe main dengan saya karena akan menguras tenaga di lapangan. Saya harus bisa mengantisipasi karena pasti akan bermain cukup lelah dan pada akhirnya yang harus saya siapkan fisik dan mental," paparnya.


    Tekanan di Kandang Sendiri


    Bagi Dalila Aghnia Puteri, bermain di Surabaya adalah pisau bermata dua. Dukungan suporter Indonesia bisa menjadi bahan bakar, tapi juga bisa berubah menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik.


    "Secara mental saya sangat siap karena kita juga main di kandang sendiri jadi akan ada banyak suporter Indonesia juga yang pasti akan mendukung," ujarnya, mencoba melihat sisi positif dari tekanan kandang.


    Status sebagai pemain unggulan pun tidak membuatnya gentar. Dalila memilih untuk tidak terjebak dalam ekspektasi, memilih fokus pada satu pertandingan demi satu pertandingan.


    "Di sini adalah salah satu pemain unggulan tapi saya tidak ingin itu menjadi beban atau tekanan. Saya akan berusaha untuk menjaga pikiran saya dan fokus satu demi satu di setiap matchnya. Untuk target saya ingin juara di sini karena ini adalah kesempatan besar saya untuk menjadi juara," katanya, menyiratkan tekad yang tenang namun bulat.


    Modal Kepercayaan Diri


    Berbeda dengan rekan-rekannya, Wahyu Agung Prasetyo datang membawa bekal berharga: gelar juara Polytron Pontianak International Challenge. Kemenangan itu menjadi suntikan moral yang tidak ternilai menjelang pertarungan di Surabaya.


    "Kalau saya pribadi dengan mendapatkan gelar di Polytron Pontianak IC kemarin jadi modal kepercayaan diri yang lebih," bebernya.


    Meski demikian, Wahyu tidak mau terjebak dalam ambisi berlebihan. Ia memilih pendekatan yang lebih membumi: melangkah setapak demi setapak, tanpa terbebani target yang terlalu jauh.


    "Yang mau saya pertahankan pastinya gelar juara tapi saya tidak mau memikirkan terlalu jauh, jadi saya mau fokus step by step dulu," tutupnya, sebuah filosofi sederhana yang sering kali justru menjadi kunci kesuksesan.


    Panggung untuk 14 Negara


    Turnamen ini sendiri akan menjadi ajang pertemuan 279 peserta dari 14 negara. Indonesia, sebagai tuan rumah, menurunkan kekuatan terbesar dengan 162 peserta. Di belakangnya menyusul Malaysia (40), Chinese Taipei (15), Singapura (13), Filipina (11), Jepang (9), Thailand (9), India (7), Vietnam (6), Australia (2), Brunei Darussalam (2), serta Amerika Serikat, Inggris, dan Sri Lanka yang masing-masing mengirim satu wakil.


    Dengan total hadiah US$ 20.000, International Challenge ini bukan sekadar turnamen rutin. Ia adalah arena pembuktian, tempat para pemain muda mengasah mental, dan bagi yang berpengalaman, ruang untuk menegaskan eksistensi.


    Di Surabaya nanti, pertanyaannya bukan hanya apakah Indonesia bisa meraih tiga gelar. Lebih dari itu: apakah eksperimen pasangan baru, ambisi pribadi para pemain, dan tekanan bermain di kandang sendiri bisa berbuah manis? Jawabannya akan terungkap di lapangan, satu shuttlecock demi satu shuttlecock. (Red)


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya ?&max-results=10'>+