KARAWANG, JEJAK HUKUM – Tim Liputan JKH, Sabtu (3/10), mencoba mengumpulkan informasi di tengah aktivitas warga untuk mengetahui sejauh mana gerakan warga masyarakat Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, dalam menggalang dukungan bagi para Juru Pelihara (Jupel) Situs Cagar Budaya Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok. Dukungan itu berupa pembubuhan tanda tangan yang sedang menyebar.
Dari ujung sebuah gang di Dusun Bojong Tugu I, tim liputan menjumpai sekelompok ibu-ibu yang sedang mengasuh anak-anak mereka. Mereka tampak berbincang-bincang hangat disertai senda gurau, saling melempar senyum dan tawa; mungkin sedang bergosip. Begitu kami mendekat, menghampiri mereka, dan memohon izin untuk sekadar menanyakan tentang gerakan moril bagi para Jupel Tugu, suasana langsung berubah. Mereka diam, semua mata tertuju pada kami dengan sorot agak tajam. Salah satu dari mereka lalu menjawab.
“Maksudna naon yeuh? Apa rek dikumpulkeun yeuh baraya ibu kabeh sakeur ngajawab pertanyaan ieu. Yeuh, A bejakeun. Ibu mah lain saukur wani neken hungkul jeung ngadukung ka pagawe tugu, para jupel, tapi jeung tanggungjawabna. Malahan ibu-ibu didieu geus nyiapkeun sapu nyere sakeur ngusir si Darwis. Mun tembong deui ngayakeun ritual, ngaji naon lah rupana. Kedok siah ngaji ge, piraku hasil ngaji rek ngusir Jupel, batur rek dikaluar-kaluarkeun ti pagaweanna bari jeung hayang nguasaan Tugu sorangan, kawas jagoan wae hirupna. Teu kudu ku bapa-bapa, ibu-ibu ge sanggup tibang ngabubarkeun riungan kos kitu mah. Siyap teu ibu-ibu?” ujarnya dalam bahasa Sunda seraya menengok kepada ibu-ibu lainnya.
“Siyaaaaap!” Riuh suara ibu-ibu lain yang kompak sambil mengangkat tangan.
Tak lama, kami pun pamitan dari hadapan ibu-ibu itu serta memohon maaf telah mengganggu keceriaan mereka. Agak ngeri juga melihat semangat dan kekompakan mereka. Kami lalu mencoba mendatangi warga lain untuk mendapat informasi tambahan mengenai hal ini. Keluar dari satu gang ke gang lain di Dusun Bojong Tugu II, kami kembali menjumpai sekelompok ibu-ibu yang berjalan beriringan. Mereka berbusana muslim, tampak rapi, dan menggendong tas berisi kitab; sepertinya akan menuju suatu pengajian. Kami pun memohon izin, menghentikan langkah mereka sebentar, lalu menanyakan kembali hal seputar tanda tangan massal ini.
Mereka saling bersahutan menjawab pertanyaan kami dengan semangat. Ekspresi geram tampak dari wajah-wajah mereka. Ibu yang satu belum selesai berbicara, ibu-ibu lain ikut bersuara. Kami pun jadi bingung mendengar jawaban mereka. Lalu, salah satu dari mereka mencoba menenangkan suasana.
“Heup... heup. Hiji-hiji atuh nembalanna. Tah kitu, Pa. Hampuraeun ari ibu-ibu mah kitu, saking sumangetna. Bagi kami, gerakan ini adalah murni bentuk pembelaan kami terhadap para petugas jupel yang senantiasa bekerja sepenuh hati, penuh semangat merawat tugu sejarah itu. Apalagi salah satunya yang bekerja di tugu tersebut merupakan bagian dari jamaah kami di pengajian. Jadi wajarlah kami mendukung dan membelanya, bukan hanya satu yang kami bela, tapi semua petugas Tugu nu rajin sasapu di Tugu weh intina mah. Kitu,” tuturnya sambil pamitan hendak melanjutkan perjalanan menuju pengajian.
Kami pun mempersilakan ibu-ibu itu dan berterima kasih karena mereka telah sudi meluangkan sedikit waktu untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang kami ajukan. Ternyata sedemikian kompak rasa peduli mereka kepada saudara, pembelaan terhadap keluarga besar Jupel Tugu, serta dukungan satu sama lain sesama warga Bojong Tugu dan sekitarnya. (Eds)
