KARAWANG, JEJAK HUKUM – Dinamika masyarakat Rengasdengklok yang multikultur dan multikompleks saat ini menuntut penyelesaian berbagai persoalan di tengah masyarakat untuk segera dilaksanakan oleh jajaran pemerintahan. Hal ini mengingat Rengasdengklok merupakan salah satu pusat pergerakan ekonomi, sosial, dan budaya di wilayah utara Karawang yang cukup signifikan intensitasnya serta luas pengaruhnya, baik langsung maupun tidak langsung, karena populasi penduduknya yang cukup padat.
Salah satu persoalan yang kini disorot warga adalah adanya rumor tentang pengelolaan Situs Cagar Budaya Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok. Informasi tersebut menyebar luas di tengah pemukiman warga yang padat penduduk, seiring pesatnya kemajuan teknologi informasi di era digital saat ini.
Pantauan Tim Liputan JKH di lapangan menunjukkan bahwa pembahasan terkait permasalahan di sekitar Bojong Tugu, khususnya di area Tugu, menjadi salah satu topik yang sering terdengar beberapa minggu belakangan ini—mulai dari obrolan warga di warung kopi, tempat nongkrong anak muda di berbagai sudut kota, hingga di tengah kumpulan pengajian ibu-ibu majelis taklim.
Setiap hari, warga secara pribadi maupun perwakilan organisasi dari berbagai tempat bersuara dan memberikan dukungan moril kepada para petugas Juru Pelihara yang bekerja di Tugu tersebut. Pasalnya, beredar rumor bahwa posisi mereka akan didepak oleh sebuah perkumpulan bernama Paguyuban Tugu yang diketuai oleh H. Darwis.
Sesepuh Padepokan Prenggongjaya, Amansari, Rengasdengklok, Abah Nasim, turut prihatin dan angkat bicara terhadap situasi di Tugu tersebut yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
"Abah rek nanya. Coba, kamana Pamarentah? Caricing wae apa kumaha ieu teh, kos nu diantep masalah di Tugu. Piraku pamarentah kudu eleh ku hiji paguyuban? Bari jeung cenah pangurusna lolobana urang luar Dengklok, pikir weh ku maraneh. Teu pantes pan?" ujarnya dalam bahasa Sunda kepada Tim Liputan JKH, Kamis (08/10) sore di padepokannya.
"Tisaprak ngadenge urang Bojong Tugu ditalipak sirah ibaratna ku urang luar ge, hate geus teu ngeunah yeuh. Barudak kabeh ku abah titah mupul tekenan, tanda tangan siah, bantuan urang Bojong, kolot urang pan itu teh. Tuman paguyuban kitu mah, mun bisa tong aya di Dengklok lah, ragab jadina. Pan loba dulur-dulur abah di Dengklok teh, nu di Bojongna, nu di Kalijayana, balatak apanan. Bejakeun ceuk abah ku maraneh, pupul tekenan saloba-lobana sangkan pamarentah apaleun dukungan urang-urang pikeun patugas Jupel nu aya di Tugu. Sakitu." Sambungnya, seraya mengepalkan tangan kiri, simbol Tugu Rengasdengklok.
Kami pun terharu dengan semangatnya. Meskipun tidak muda lagi, beliau terlihat begitu antusias membela saudaranya yang sedang dirundung masalah. Terlebih, beliau memandang sesepuh Bojong Tugu sebagai orangtua yang harus dihormati.
Setiap berbicara tentang Rengasdengklok, matanya tampak berkaca-kaca mengenang perjuangan orangtuanya pada zaman dahulu. Pesan yang cukup mendalam bagi kami disampaikan di akhir percakapan dengan beliau: "Pahlawan itu, banyak yang terkenal atau yang tidak dikenal?" Kami hanya diam dan menundukkan kepala seraya meminta maaf serta berterima kasih telah meluangkan waktunya bagi kami. (Eds)
