• Jelajahi

    AlekSafriGROUP © JEJAK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG MEDIA ONLINE MATAZAHWA

    JEJAK HUKUM

    Selamat Berkunjung - Media Online - JEJAKHUKUM.COM - Akurat ,Tegas Dan Terpercaya

    Siapa yang Lebih Kredibel: Jurnalis Profesional atau Influencer Viral?

    Jumat, 06 Februari 2026, Februari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-02-06T14:42:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    JAKARTA, JEJAK HUKUM – Menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tak terhindarkan: dunia informasi telah mengalami perubahan drastis. Dulu, masyarakat menunggu informasi dari koran, radio, atau televisi. Saat ini, berita sering kali datang melalui layar ponsel, bukan dari jurnalis, melainkan dari kreator konten.


    Kemunculan kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, dan budaya "viral" turut memicu perubahan ini. Informasi kini bergerak sangat cepat, sementara proses verifikasi membutuhkan waktu. Di sinilah terjadi persaingan terselubung: antara kecepatan dan kebenaran.


    Wartawan Tradisional Mulai Tersisih, Namun Ini Bukan Kekalahan

    Tak dapat disangkal, wartawan tradisional semakin kerap merasa "ketinggalan". Banyak peristiwa besar pertama kali muncul melalui unggahan masyarakat, YouTuber, TikToker, atau akun Instagram lokal. Wartawan biasanya hadir belakangan untuk melakukan konfirmasi.


    Permasalahannya, publik kadang tidak peduli siapa yang memverifikasi. Mereka lebih peduli bahwa mereka telah mengetahui informasi tersebut terlebih dahulu. Di era ini, wartawan bukan lagi satu-satunya sumber informasi.


    Namun, tersisih bukan berarti kalah. Wartawan masih memiliki aset yang tidak dimiliki semua orang: tanggung jawab profesional. Ada kode etik, mekanisme perbaikan kesalahan, redaksi, standar verifikasi, serta konsekuensi hukum dan moral.


    Di sisi lain, kreator konten sering kali tidak memiliki hal tersebut. Mereka memiliki kreativitas, keberanian, dan kedekatan dengan audiens, tetapi tidak selalu dilengkapi batasan etika yang kuat.


    Permasalahan Utama: Publik Sulit Membedakan Berita dan Konten

    Salah satu krisis terbesar zaman ini adalah kaburnya batas antara berita, opini, dan hiburan. Konten dibuat seolah-olah fakta, opini disajikan seperti berita, dan rumor disunting seakan-akan hasil investigasi.


    Yang lebih berbahaya, AI mempermudah manipulasi. Teknologi seperti deepfake, kloning suara, foto yang dimanipulasi, dan narasi otomatis dapat mengubah hoaks menjadi tampak kredibel.


    Ketika masyarakat kebingungan, tingkat kepercayaan pun runtuh. Dan ketika kepercayaan hancur, yang diuntungkan bukanlah wartawan atau kreator, melainkan pihak yang berusaha menyebarkan kebohongan.


    Media Konvergensi: Solusi Memperbaiki Kepercayaan

    Di sinilah pentingnya media konvergensi. Wartawan tidak cukup hanya menulis berita untuk platform tertentu. Mereka harus hadir di seluruh saluran: teks, video pendek, podcast, laporan langsung, infografik, hingga ruang interaksi publik.


    Konvergensi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan cara bagi media untuk mempertahankan pengaruhnya dalam membangun opini publik yang sehat.


    Wartawan harus mampu:

    - Mengolah fakta menjadi cerita yang mudah dipahami,

    - Cepat tapi tetap terverifikasi,

    - Melawan disinformasi dengan data, bukan emosi,

    - Membangun kepercayaan melalui transparansi dalam kerja jurnalistik.


    Jika wartawan hanya bergantung pada format lama, publik akan menjauh. Bukan karena wartawan tidak penting, tetapi karena mereka tidak berada di tempat di mana publik berkumpul.


    Kreator Konten Bukan Musuh, Mereka Adalah Realitas Baru

    Kita juga perlu menyadari, kreator konten bukanlah musuh wartawan. Mereka adalah bagian dari ekosistem informasi yang baru. Banyak kreator konten membantu menyuarakan permasalahan publik, mengangkat isu lokal, dan mempercepat penyebaran informasi penting.


    Namun, tanpa bimbingan yang tepat, kreator konten dapat berubah menjadi "pabrik opini" yang tidak terkontrol. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dan pembinaan, bukan konflik.


    Membimbing Kreator Konten: Dari Viral Menuju Bertanggung Jawab

    Pembinaan untuk kreator konten tidak berarti membatasi kebebasan berekspresi. Ini adalah pemberian standar minimal agar konten yang dihasilkan tidak merusak publik.


    Beberapa hal yang perlu ditanamkan:


    Beda antara fakta dan opini. Kreator konten boleh memiliki pendapat, tetapi tidak boleh memanipulasi fakta untuk mendukungnya.


    Biasakan verifikasi sederhana. Minimal, periksa sumber, waktu, tempat, dan konteks.


    Pahami prinsip "hak untuk menjawab". Jika ada tuduhan terhadap seseorang, berikan kesempatan klarifikasi. Ini bukan sekadar etika, melainkan soal keadilan.


    Hindari monetisasi kebencian. Algoritma mungkin menyukai pertikaian, tetapi masyarakat tidak seharusnya menjadi korban.


    Pahami dampaknya. Konten keliru dapat merusak nama baik individu, memicu perselisihan, bahkan berujung pada masalah hukum.


    Jika kreator dibekali prinsip ini, mereka tidak hanya menjadi "pembuat konten", tetapi juga mitra dalam penyampaian informasi publik.


    Nurani Jurnalisme Harus Menjadi Panduan Bersama

    Baik wartawan maupun kreator konten secara fundamental memiliki tujuan serupa: menyebarkan informasi kepada masyarakat. Perbedaannya hanya pada jalur dan tradisinya.


    Dalam rangka HPN 2026, yang perlu ditekankan adalah: teknologi mungkin berubah, format mungkin bergeser, namun nurani jurnalisme harus tetap hidup.


    Wartawan di Indonesia harus terus berani mengungkap kebenaran di atas segala kepentingan. Begitu pula kreator konten. Konten yang viral sah-sah saja, tetapi kebenaran adalah yang utama. Popularitas penting, tetapi integritas harus diprioritaskan.


    Sebab, negara ini tidak kekurangan orang yang mampu berbicara. Yang kurang hanyalah orang yang berani mengungkapkan kebenaran.


    Masa Depan Pers Tidak Ditentukan oleh AI, Melainkan oleh Keberanian

    AI akan terus berkembang. Jumlah kreator konten akan semakin meningkat. Platform akan terus berubah. Namun, masa depan pers di Indonesia tidak ditentukan oleh teknologi.


    Masa depan pers ditentukan oleh satu aspek: keberanian untuk membela kebenaran.


    Jika wartawan dan kreator konten dapat berkolaborasi dengan memegang etika, melakukan verifikasi, dan berpihak pada kepentingan publik, maka Indonesia tidak akan terjebak dalam lautan informasi yang menyesatkan.


    Justru, Indonesia akan memiliki generasi baru yang menjaga kebenaran: wartawan yang adaptif dan kreator konten yang bertanggung jawab.


    Selamat Hari Pers Nasional 2026. Hidup Pers Indonesia.


    (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya ?&max-results=10'>+