• Jelajahi

    AlekSafriGROUP © JEJAK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG MEDIA ONLINE MATAZAHWA

    JEJAK HUKUM

    Selamat Berkunjung - Media Online - JEJAKHUKUM.COM - Akurat ,Tegas Dan Terpercaya

    Fakta di Balik Sunyi: Kerusakan Pangkalan AS di Mata Jurnalis Israel

    Senin, 09 Maret 2026, Maret 09, 2026 WIB Last Updated 2026-03-08T20:42:54Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    KARAWANG, JEJAK HUKUM – Selama ini, klaim atau kebohongan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam perang menghadapi Iran akhirnya terbongkar. Kedua negara yang dinilai sebagai "perusak" perdamaian Timur Tengah itu diduga menyembunyikan kerusakan parah yang mereka derita akibat serangan rudal dan drone Iran.


    Bahkan, seorang jurnalis senior asal Israel, Alon Mizrahi, menyatakan bahwa AS dan Israel tidak menyadari bahwa peperangan ini tidak bisa mereka menangkan. Menurutnya, kerusakan yang dialami aset-aset militer AS di sejumlah negara Timur Tengah jauh lebih parah dibandingkan dengan peristiwa Pearl Harbor saat menerima serangan mendadak tentara Jepang pada tahun 1941, seperti dilansir dari laman deskjabar,com.


    Alon bukanlah sosok sembarangan. Ia tiba-tiba mencurahkan penilaiannya tentang perang Iran versus AS dan Israel yang tengah terjadi saat ini. Penilaiannya tentang perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 itu sangat menarik, terutama di tengah upaya pembungkaman media oleh AS dan Israel atas kerusakan yang mereka derita. Penilaiannya langsung mendapatkan perhatian dunia karena dinilai sebagai pandangan objektif dari seorang warga Israel.


    Latar Belakang Alon Mizrahi

    Alon Mizrahi lahir di Israel dari keluarga Yahudi Mizrahi, yakni komunitas Yahudi Timur Tengah yang secara sejarah dan budaya jauh lebih dekat dengan dunia Arab dibandingkan dengan Yahudi Eropa. Ayahnya berdarah Arab, sementara ibunya berasal dari keluarga Yahudi Maroko. Karena latar belakang itulah ia sering menyebut dirinya sebagai "Yahudi Arab" — sebuah identitas yang di Israel sendiri sering terasa seperti paradoks.


    Alon pernah menjalani wajib militer di Angkatan Bersenjata Israel (IDF). Pada masa mudanya, ia bahkan dikenal memiliki pandangan politik yang cenderung kanan. Namun, perjalanan hidup sering kali memiliki cara unik untuk membelokkan arah keyakinan seseorang. Narasi yang pernah menghebohkan adalah pendapatnya bahwa elite politik Israel dan sebagian besar masyarakatnya telah terjebak dalam pola kebencian anti-Arab yang sangat dalam. Setelah mengalami trauma pribadi, termasuk kematian saudaranya dalam kecelakaan motor, pandangan politiknya berubah drastis. Ia kemudian bergerak ke spektrum kiri radikal dan mulai mengkritik keras ideologi Zionisme, struktur kekuasaan negara Israel, serta cara negara itu memperlakukan rakyat Palestina.


    Saat ini, Alon tinggal di Amerika sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida yang dilakukan Israel di Gaza. Dari sana, ia menjadi salah satu suara Yahudi paling keras yang menentang kebijakan negara asalnya sendiri.


    "Kita Sedang Menyaksikan Sejarah"

    Dalam pandangannya tentang perang Iran versus AS dan Israel, Alon Mizrahi menyatakan bahwa dunia sedang menyaksikan sejarah. "Kita sedang menyaksikan sejarah. Iran, di luar dugaan semua orang, menghancurkan pangkalan-pangkalan Amerika secara begitu luas, begitu menyeluruh, dan begitu menentukan sehingga dunia belum siap melihatnya," tutur Alon.


    Penilaiannya itu tidak asal bicara. Ia berbicara berdasarkan fakta yang sebenar-benarnya. Ia menunjuk pada jaringan pangkalan militer Amerika yang tersebar di seluruh Teluk Persia, seperti di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Banyak di antaranya kini dilaporkan rusak berat, lumpuh operasional, atau tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya.


    Menurutnya, pangkalan-pangkalan itu bukan sekadar lapangan parkir pesawat tempur. Semuanya merupakan kota-kota militer raksasa di dalam negara dengan sejumlah fasilitas penting, seperti hanggar pesawat, pelabuhan armada laut, radar jarak jauh, gudang logistik, serta sistem pertahanan udara paling mahal yang pernah dibuat manusia.


    Semua itu, kata Mizrahi, dibangun selama beberapa dekade dengan biaya yang tidak main-main: triliunan dolar. Artinya sederhana: yang sedang dipertaruhkan bukan hanya beberapa fasilitas militer, melainkan investasi strategis Amerika selama lebih dari tiga puluh tahun di Timur Tengah.


    Alon memberikan contoh yang hampir terasa seperti ironi teknologi. Radar militer yang harganya ratusan juta dolar per unit — sistem yang dirancang untuk mendeteksi misil dari ribuan kilometer — dilaporkan hancur dalam hitungan detik. Sistem yang seharusnya menjadi mata dan telinga pertahanan itu justru menjadi korban pertama dari serangan yang datang tanpa ampun, bagai hujan api dari langit Iran. Beberapa pangkalan, menurutnya, tampak rusak parah, ditinggalkan, bahkan terbakar.


    "Jika gambaran itu benar — dan fakta-fakta indikatornya terungkap jelas — maka kita sedang menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah militer Amerika: tanda kekalahan strategis yang sangat sulit dibalikkan," ujarnya.


    Setara dengan Kerusakan Pearl Harbor

    Bahkan, untuk menggambarkan kerusakan aset militer AS akibat serangan rudal Iran, Alon membandingkannya dengan kerusakan Pangkalan Pearl Harbor akibat serangan mendadak Jepang pada tahun 1941. Saat itu, Pearl Harbor rusak parah setelah menerima serangan udara dan laut dari pasukan Jepang yang datang secara tiba-tiba tanpa sebelumnya disadari oleh militer AS.


    Alon menilai bahwa dalam sejarah perang modern, hampir tidak ada musuh dalam perang konvensional yang mampu menimbulkan kerusakan sebesar serangan misil dan drone Iran terhadap infrastruktur militer Amerika. Alon menilai, Iran sepertinya telah mempersiapkan kemungkinan perang ini selama puluhan tahun. Setiap skenario kemungkinan serangan telah dipelajari dan dipetakan dengan cermat.


    Kalaupun Presiden AS Donald Trump belum lama ini mengklaim telah mencapai serangan penting ke Iran yang menghancurkan negara Ayatollah tersebut, dalam kacamata Alon, hampir tidak ada rekaman yang mendukung klaim Trump. Jika Amerika benar-benar menguasai langit Iran, di mana video pesawat tempur yang terbang di atas Teheran? Di mana gambar dominasi udara yang selama ini selalu menjadi kebanggaan militer Amerika? Ironisnya, justru pada saat peristiwa sebesar ini dikatakan terjadi, dunia hampir tidak melihat gambar apa pun di media arus utama Barat. Di sinilah Mizrahi mulai mengajukan pertanyaan yang membuat ruang redaksi Barat sedikit berkeringat. (Red)


    *) Dari berbagai sumber

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya ?&max-results=10'>+