TEHERAN, JEJAK HUKUM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah terjadi serangan drone yang menargetkan Presiden wilayah Kurdi semi-otonom Irak utara, Nechirvan Barzani, di kediamannya di Duhok.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya pembunuhan serta “tindakan terorisme yang jelas”. IRGC menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik serangan itu, serta menilai aksi tersebut sebagai bagian dari pola serangan terhadap tokoh-tokoh penting di kawasan.
Menurut IRGC, tindakan tersebut bertujuan merusak stabilitas dan kerja sama regional, khususnya antara wilayah Kurdi dan negara-negara sekitarnya.
Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, telah memerintahkan penyelidikan atas insiden yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut. Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran, yang kini mulai meluas ke wilayah Irak, termasuk melibatkan kelompok bersenjata sekutu Iran dan pasukan Kurdi.
Di sisi lain, Iran dilaporkan telah meningkatkan kesiapsiagaan militernya secara signifikan untuk menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan kantor berita Fars, Teheran menyiapkan delapan lapis pertahanan darat yang dirancang dengan sistem komando berbasis intelijen untuk memantau dan merespons pergerakan musuh secara menyeluruh.
Lapisan pertahanan tersebut melibatkan berbagai kekuatan, mulai dari:
Pasukan khusus Nuhed sebagai garda terdepan,
Pasukan Fatiheen untuk operasi ofensif,
Brigade infanteri mekanis dengan perlengkapan lapis baja,
Artileri berat untuk dukungan tembakan,
Unit polisi khusus untuk pengamanan wilayah urban,
Batalyon Imam Hussein dan Imam Ali sebagai pasukan elit,
Hingga mobilisasi veteran dan sukarelawan rakyat sebagai pertahanan terakhir.
Iran juga disebut telah mempersenjatai dan mengorganisir warga sipil, khususnya di wilayah perbatasan, sebagai bagian dari strategi pertahanan total.
Langkah ini menandai kesiapan Iran menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar dunia. (Red)


