RIYADH, JEJAK HUKUM – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan serangan balasan terhadap puluhan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Arab. Kali ini, dampaknya terasa hingga ke jantung Arab Saudi.
Dilansir dari AFP pada Minggu (1/3/2026), warga di kawasan timur ibu kota Arab Saudi, Riyadh, dikejutkan dengan suara ledakan keras. Para saksi mata melaporkan beberapa dentuman disusul dengan kepulan asap di langit.
Ledakan ini terjadi di tengah serangan balasan hari kedua yang dilancarkan Iran di kawasan Teluk. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait penyebab ledakan tersebut.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan militer bernama Operasi Epic Fury ke Iran pada Sabtu (28/2). Serangan itu dilaporkan menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil lainnya.
Sebagai respons, Iran langsung melancarkan serangan balasan pada hari yang sama (Sabtu, 28/2) dan kembali melakukannya pada Minggu (1/3). Pada serangan tahap awal, Iran juga menargetkan Riyadh dan provinsi Timur Saudi.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi melalui Kementerian Luar Negerinya dengan tegas mengecam aksi serangan Iran tersebut. Pihak kerajaan menyebut bahwa serangan itu berhasil dicegah sebelum mencapai sasarannya.
"Serangan-serangan ini tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun. Hal ini terjadi meskipun pihak berwenang Iran mengetahui bahwa Kerajaan telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorialnya digunakan untuk menyerang Iran," demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. (Red)


