• Jelajahi

    AlekSafriGROUP © JEJAK HUKUM
    Best Viral Premium Blogger Templates
    TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG MEDIA ONLINE MATAZAHWA

    JEJAK HUKUM

    Selamat Berkunjung - Media Online - JEJAKHUKUM.COM - Akurat ,Tegas Dan Terpercaya

    Kriteria MABIMS Jadi Penentu: Ini Prediksi Lebaran Idul Fitri 1447 H Versi Pemerintah

    Senin, 16 Maret 2026, Maret 16, 2026 WIB Last Updated 2026-03-16T15:41:51Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    ACEH, JEJAK HUKUM – Warganet dan masyarakat mulai mencari kepastian terkait kapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Beredar informasi yang menyebutkan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah menetapkan Lebaran Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat (20/3/2026). Sementara sebagian lainnya memprediksi Lebaran Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu (21/3/2026).


    Spekulasi tersebut muncul setelah hasil perhitungan awal menunjukkan posisi hilal di Aceh pada 19 Maret 2026 diperkirakan sudah berada di atas ufuk. Kondisi ini memunculkan kemungkinan Lebaran tahun ini dapat dirayakan serentak dengan keputusan Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026. Seperti dilansir dari laman seranbinews,com (16/3).


    Untuk diketahui, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan 1 Syawal 1447 H melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H. Sidang isbat tersebut akan menjadi penentu resmi awal bulan Syawal berdasarkan hasil perhitungan hisab dan pemantauan hilal di berbagai titik pengamatan di Indonesia.


    Sementara itu, berdasarkan perhitungan Tim Falakiyah Kemenag Aceh, ijtima atau konjungsi awal Syawal 1447 H diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB. Ketinggian hilal di Markaz Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang Lhoknga, Aceh Besar, adalah 3,1 derajat di atas ufuk dengan elongasi geosentrik 6,10 derajat.


    Berdasarkan hisab dan perhitungan astronomi BMKG, ketinggian hilal pada 29 Ramadhan 1447 H (19 Maret 2026) berada antara 0°54'27" di Merauke, Papua hingga 3°07'52" di Sabang, Aceh, dengan elongasi berkisar antara 4°32'40" hingga 6°06'10". Meski posisi hilal sudah berada di atas ufuk di Aceh, nilai elongasinya masih belum memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).


    Adapun kriteria MABIMS yang disepakati oleh negara-negara anggota, yaitu ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk dan sudut elongasi (jarak bulan dengan matahari) minimal 6,4 derajat. Dengan demikian, posisi hilal pada 19 Maret 2026 berpotensi belum memenuhi syarat imkanur rukyat menurut kriteria tersebut.


    Direktur Urusan Agama Islam Kemenag RI, Arsad Hidayat, mengatakan posisi hilal pada akhir Ramadhan berdasarkan perhitungan hisab belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan negara-negara MABIMS.


    "Ketinggian hilal di beberapa wilayah seperti Aceh memang mendekati batas, tapi elongasinya masih kurang dari standar minimal 6,4 derajat," jelas Arsad, Senin (9/3/2026).


    Karena itu, keputusan akhir mengenai kapan Lebaran Idul Fitri 2026 akan ditetapkan tetap menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah.


    Bagaimana Prediksi Lebaran versi BMKG dan BRIN?

    Ketua Tim Kerja Bidang Tanda Waktu BMKG, Himawan Widiyanto, memprediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Berdasarkan hisab dan perhitungan astronomi, ketinggian hilal pada 29 Ramadhan 1447 H (19 Maret 2026) berada antara 0°54'27" di Merauke, Papua hingga 3°07'52" di Sabang, Aceh, dengan elongasi berkisar antara 4°32'40" hingga 6°06'10".


    "Karena ketinggian hilal pada 19 Maret belum memenuhi kriteria minimal MABIMS, bulan Ramadhan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari. Jadi, Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026," jelas Himawan.


    Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menunggu keputusan resmi dari Menteri Agama RI melalui sidang isbat. "Kita tetap harus menunggu keputusan Menteri Agama RI dalam sidang isbat tanggal 19 Maret 2026," tuturnya.


    Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penghitungan astronomi juga memprediksi Lebaran 2026 jatuh pada 21 Maret 2026. Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa ketinggian bulan pada matahari terbenam 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi syarat minimal MABIMS, sehingga hilal kemungkinan belum dapat diamati. Dengan kata lain, bulan Ramadhan kemungkinan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.


    Warga Muhammadiyah Lebaran Hari Jumat

    Muhammadiyah telah menetapkan Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang hasil hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Perhitungan dilakukan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).


    Ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 01:23:28 UTC. Saat Matahari terbenam pada hari ijtimak, beberapa wilayah di muka bumi sudah memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi lebih dari 8 derajat. Dengan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026. (Red)


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya

    Terimakasih Telah Berkunjung Di JEJAK HUKUM - Akurat Tegas Dan Terpercaya ?&max-results=10'>+