TEHERAN, JEJAK HUKUM – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini memasuki babak baru yang cukup mengejutkan. Alih-alih tunduk, Iran justru muncul dengan kekuatan baru yang membuat posisi Washington terjepit. Banyak pengamat menilai situasi ini bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita bedah dalam bahasa yang lebih sederhana.
1. Iran Masih Berdiri Kokoh Setelah 6 Minggu Ketegangan
Banyak yang mengira tekanan militer AS akan langsung melumpuhkan Iran. Namun, kenyataannya berbicara lain. Profesor Mohamad Elmasry dari Institut Studi Pascasarjana Doha menyebutkan bahwa target Presiden Donald Trump belum tercapai meski serangan telah berlangsung intens.
"AS tidak mampu mencapai tujuannya di Iran dalam waktu sekitar enam minggu pemboman yang cukup intens. Rezimnya (Iran) masih utuh, jaringan proksinya masih utuh, Iran masih memiliki rudal dan drone," kata Elmasry dilansir dari Al Jazeera.
Bahkan, laporan terbaru menyebutkan bahwa Iran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur misilnya dalam posisi siap tempur untuk beberapa bulan ke depan.
2. 'Senjata' Baru Iran: Kendali Selat Hormuz
Salah satu pukulan terberat bagi AS adalah kendali Iran atas Selat Hormuz. Jalur laut ini adalah urat nadi perdagangan minyak dunia. Siapa pun yang menguasainya, dialah yang memegang kendali atas harga energi global.
Menurut Elmasry, penguasaan ini adalah mimpi buruk bagi pemerintahan Trump. "Sekarang Iran memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya enam minggu lalu; dan itu adalah kendali atas Selat Hormuz. Ini merupakan situasi yang sangat buruk bagi Trump dan Amerika, ini merupakan bencana politik dan ekonomi," tambahnya.
3. Strategi 'Bayangan': Tarif Tol Kripto dan Yuan
Yang paling menarik perhatian adalah cara Iran membalas sanksi ekonomi AS. Teheran dilaporkan mulai menarik "biaya tol" bagi kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Uniknya, mereka tidak menerima dolar AS.
Iran menerapkan pembayaran melalui:
✓ Aset Kripto: Karena transaksinya cepat dan sulit dilacak oleh otoritas perbankan konvensional.
✓ Yuan China: Memanfaatkan sistem CIPS (Cross-Border Interbank Payment System) milik China sebagai tandingan sistem SWIFT yang didominasi Barat.
Biayanya pun tidak main-main. Untuk satu kapal tanker raksasa, biaya yang dipatok bisa mencapai 2 juta dolar AS atau sekitar Rp33 miliar. Menurut riset dari TRM, Iran menggunakan Bank of Kunlun dan sistem transfer bernama CIPS.
Sebagai gambaran, CIPS adalah jalur pembayaran buatan China yang menjadi pesaing SWIFT (sistem bank dunia yang dikuasai Barat). Dengan jalur ini, Iran bisa tetap bertransaksi tanpa takut diblokir oleh Amerika Serikat. (Red)
