TEL AVIV, JEJAK HUKUM – Dua perkembangan signifikan mewarnai dinamika Timur Tengah dalam dua hari terakhir, dengan analisis dari media Israel yang menilai Iran muncul sebagai pemenang, sementara Menteri Pertahanan Pakistan mengecam keras Israel sebagai perusak perdamaian.
Surat kabar Israel, Maariv, pada 8 April 2026 memuat analisis tajam dari penulis Avi Ashkenazi. Ia menilai arah konflik terbaru menunjukkan perubahan signifikan dari retorika agresif menuju realitas yang lebih kompleks. Setelah lebih dari 40 hari pertempuran yang menyebabkan kerusakan luas di Israel, posisi Iran dinilai tetap solid. Pemerintahan Iran masih bertahan, sementara aset strategis seperti program nuklir dan kendali atas Selat Hormuz yang disebutnya sebagai "ATM" bagi kapal manapun tetap berada di bawah kontrol Teheran.
Ashkenazi menilai hasil konflik sejauh ini mendorong Amerika Serikat dan Israel ke arah kesepakatan yang tidak sepenuhnya menguntungkan mereka. Dinamika itu disebut berpotensi menciptakan tatanan baru di kawasan, dengan Iran sebagai aktor yang semakin berpengaruh. Perkembangan ini terjadi seiring perubahan sikap Presiden AS Donald Trump yang mulai membuka ruang negosiasi dengan Iran. Trump disebut mempertimbangkan proposal 10 poin dari Teheran sebagai kerangka yang "dapat diandalkan" untuk pembicaraan lanjutan.
Kedua pihak dilaporkan telah menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan. Proposal Iran mencakup komitmen AS untuk tidak melakukan agresi, pengakuan hak Iran dalam pengayaan uranium, pencabutan seluruh sanksi, penghentian resolusi internasional terhadap Iran, kompensasi kerugian, serta penarikan pasukan tempur AS dari kawasan. Proposal tersebut juga mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk di Lebanon.
Sementara itu, pada 10 April 2026, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, mengecam keras serangan Israel di Lebanon yang terus berlanjut di tengah upaya diplomatik. Melalui unggahan di platform X, Asif menyoroti jatuhnya korban sipil dalam serangan terbaru dan menyebut kekerasan yang terjadi menunjukkan pertumpahan darah belum berhenti. Ia menegaskan posisi lama Pakistan yang mendukung rakyat Palestina dan Lebanon, serta mendorong penghentian segera serangan terhadap warga sipil dan penyelesaian konflik melalui jalur politik.
Sejak eskalasi konflik regional pada akhir Februari, serangan lintas perbatasan antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon semakin intensif. Laporan otoritas kesehatan Lebanon menyebut ratusan warga sipil tewas dan ribuan lainnya terluka dalam gelombang serangan terbaru. Hingga kini belum ada kesepakatan final, dan situasi di kawasan tetap dinamis seiring berlanjutnya negosiasi serta tekanan militer di berbagai titik konflik. (Red)


