ISLAMABAD, JEJAK HUKUM – Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, resmi gagal mencapai kesepakatan. Delegasi kedua negara telah meninggalkan Pakistan seusai negosiasi intensif yang berlangsung 21 jam tanpa hasil.
Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Sementara itu, delegasi AS dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance, turut melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Presiden AS, Jared Kushner. Perundingan yang berlangsung dalam kerangka "Islamabad Talks" itu difasilitasi dan dimediasi oleh Pakistan.
Dua Penyebab Utama Kegagalan
1. Tuntutan AS soal Program Nuklir Iran
AS bersikukuh Iran harus menghentikan total pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama, serta memindahkan stok uranium yang telah diperkaya keluar dari Iran. Iran menolak tuntutan tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan Iran telah dua kali dikhianati AS saat perundingan nuklir sebelumnya. Teheran meminta jaminan bahwa perang benar-benar berakhir dan serangan tidak akan kembali terjadi setelah mereka memberi konsesi.
Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, menyebut tuntutan AS "tidak masuk akal" dan menghambat kemajuan negosiasi. Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan tidak ada negara yang dapat mencabut hak Republik Islam untuk melakukan pengayaan nuklir secara damai sesuai aturan IAEA.
2. Polemik Pengendalian Selat Hormuz
Iran menolak membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa memungut biaya bagi kapal yang melintas. Dalam proposalnya, Iran mengajukan tarif hingga US$2 juta (sekitar Rp34,19 miliar) per kapal. AS mengusulkan pengelolaan bersama, namun Teheran menolak karena selat itu berada di perairan Iran dan Oman.
Penutupan Selat Hormuz dilakukan setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari, memicu gejolak pasar energi global. Iran menyadari posisi tawar tingginya dan menolak membuka jalur tersebut sebelum kesepakatan final tercapai.
Pernyataan Para Pihak
Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan, "Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami." Vance mengisyaratkan masih memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran terakhir AS.
Presiden Donald Trump mengaku tidak peduli dengan hasil pembicaraan. "Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak berpengaruh bagi saya. Kita telah mengalahkan mereka secara militer," ujarnya. AS telah mengerahkan kapal perang penyapu ranjau ke Selat Hormuz.
Sementara itu, Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menegaskan Teheran akan tetap memegang teguh haknya atas Selat Hormuz sambil melanjutkan upaya diplomatik.
Israel Siapkan Pasukan
ABC News melaporkan Israel langsung mempersiapkan pasukannya terkait kemungkinan gelombang serangan baru terhadap Iran pasca-gagalnya negosiasi. Sejumlah media Israel menyebut pemerintah Israel senang negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Negosiasi AS-Iran di Islamabad gagal karena dua isu kunci – program nuklir Iran yang ditolak dihentikan total, serta pengendalian Selat Hormuz yang ingin tetap dikuasai Iran. Kedua delegasi telah pulang, Israel menyambut kegagalan ini, sementara AS mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz. (Red)

