JAKARTA, JEJAK HUKUM – Komando Pasukan Khusus (Kopassus) genap berusia 74 tahun pada Kamis, 16 April 2026. HUT ke-74 yang mengusung tema "Garda Senyap Untuk Negeri" ini terasa istimewa karena bertepatan dengan restrukturisasi besar-besaran satuan elite TNI Angkatan Darat tersebut.
Presiden RI Prabowo Subianto turut memperingati momen bersejarah ini dengan mengunggah foto lama di akun Instagram pribadinya, @prabowo. Dalam foto hitam putih tersebut, Prabowo yang pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus (1995–1998) terlihat mengenakan seragam loreng lengkap dengan baret merah sambil memberikan hormat. Tulisan "DIRGAHAYU KOPASSUS YANG KE-74" (16 April 1952 – 2026) menyertai unggahan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap satuan yang menjadi bagian penting dalam karier militernya.
Dari Sopir Ratu Belanda hingga Garda Terdepan TNI
Sejarah panjang Kopassus dimulai dari seorang mantan instruktur Belanda bernama Rokus Bernardus Visser (Mochammad Idjon Djanbi). Lahir pada 13 Mei 1914, Visser sempat menjadi sopir Ratu Belanda Wilhelmina di pengasingan Inggris saat Perang Dunia II. Setelah pensiun dan menjadi mualaf, ia diminta oleh Kolonel A.E. Kawilarang pada 1951 untuk melatih pasukan khusus di Batujajar, Jawa Barat. Unit yang dilatihnya itulah yang menjadi cikal bakal Kopassus, yang sempat berganti nama dari RPKAD, Kopassandha, hingga menjadi Kopassus saat ini.
Struktur Terkini: 6 Grup dan Satuan Anti Teror
Dalam sebuah upacara gelar pasukan di Batujajar, Bandung, pada 10 Agustus 2025 lalu, Presiden Prabowo secara resmi meresmikan penambahan grup baru di jajaran Kopassus. Dengan demikian, struktur Kopassus terkini terdiri dari enam grup para komando yang tersebar di seluruh Indonesia, ditambah Satuan 81/Gultor (Penanggulangan Teror) dan Pusdiklatpassus. Berikut rinciannya:
✓ Grup 1/Para Komando (Serang, Banten): Grup tertua dengan empat batalyon, berfokus pada operasi khusus di wilayah barat Indonesia.
✓ Grup 2/Para Komando (Kartasura, Solo): Bermotto Dwi Dharma Bhirawa Yudha, menjadi tulang punggung operasi di wilayah tengah dan timur.
✓ Grup 3/Para Komando (Riau, relokasi dari Cijantung): Awalnya fokus pada intelijen tempur, kini diperkuat untuk pertahanan di Pulau Sumatra.
✓ Grup 4/Para Komando (Penajam, Kaltim): Grup baru yang dibentuk untuk mengokohkan keamanan di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).
✓ Grup 5/Para Komando (Kendari, Sultra): Markas pertama di Sulawesi untuk mempercepat penanganan ancaman di kawasan timur Indonesia.
✓ Grup 6/Para Komando (Timika, Papua): Ditempatkan langsung di jantung area konflik untuk penanggulangan gerakan separatis.
> Satuan 81/Gultor (Cijantung, Jakarta): Satuan anti-teror andalan yang sukses dalam Operasi Woyla (1981).
> Pusdiklatpassus (Batujajar, Jabar): Pusat pendidikan yang menjaga regenerasi prajurit beretika "cepat, senyap, tepat".
Dengan ekspansi ini, Kopassus tidak hanya memperkuat postur pertahanan di Jawa, tetapi juga hadir secara permanen di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, menyandingkan kemampuannya dengan pasukan elite dunia seperti SAS Inggris atau Delta Force AS. (Red)



