KARAWANG — Di tengah kondisi kekeringan yang mengingatkan manusia akan pentingnya air, keluarga besar SMP Tahfidz Darul Qomar Majalaya, Karawang, memilih menundukkan kepala dan memanjatkan doa.
Para siswa, guru, serta keluarga besar sekolah melaksanakan Shalat Sunnah Istisqa, Jumat (2/10/2026), sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Shalat Istisqa dipimpin oleh Ustadz Dasim, S.Pd.I., M.Pd., Gr. Dalam kesempatan tersebut, seluruh peserta diajak tidak hanya memohon hujan dari langit, tetapi juga memperbanyak istighfar, bertobat, memperbaiki ibadah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi menyentuh: sebelum berharap langit menurunkan hujan, manusia perlu melihat kembali kondisi hatinya.
Kekeringan Bukan Sekedar Soal Air
Dalam tausiyahnya, Ustadz Dasim mengajak para siswa menjadikan kondisi kekeringan sebagai momentum untuk bermuhasabah.
“Sebelum kita meminta hujan turun dari langit, mari kita periksa terlebih dahulu hati kita. Sudahkah kita memperbanyak istighfar? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua dan guru? Sudahkah kita meninggalkan kemaksiatan dan memperbaiki ibadah?”
Menurutnya, kekeringan tidak semestinya hanya direspons dengan keluhan. Kondisi tersebut dapat menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Air merupakan nikmat yang sangat besar. Namun, nilai nikmat tersebut sering kali baru benar-benar dirasakan ketika persediaan air mulai berkurang dan kekeringan melanda.
Karena itu, doa perlu berjalan bersama ikhtiar. Istighfar, sedekah, memperbaiki hubungan antar sesama, serta memperbanyak amal saleh menjadi bagian dari upaya memperbaiki diri.
Dari Ruang Kelas, Siswa Belajar Tentang Kehidupan
Bagi SMP Tahfidz Darul Qomar, Shalat Istisqa juga menjadi bagian dari pendidikan karakter.
Para siswa tidak hanya diajak mengejar prestasi akademik, tetapi juga memahami pentingnya akhlak, rasa syukur, kepedulian, tanggung jawab, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Ustadz Dasim mengingatkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada angka dan nilai.
“Jangan hanya mengajarkan anak bagaimana mendapatkan nilai tinggi, tetapi ajarkan juga bagaimana menjadi manusia yang rendah hati, bersyukur, peduli kepada sesama, dan menjaga alam sebagai amanah Allah.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa alam bukan sekedar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam merupakan amanah yang harus dijaga.
Momentum Istisqa akhirnya menjadi pelajaran yang sederhana namun mendalam. Ketika langit belum menurunkan hujan, manusia justru diajak untuk menurunkan kesombongan dari dalam dirinya.
Saat Kepala Menunduk, Harapan Dilangitkan
Di penghujung kegiatan, suasana semakin khidmat. Para peserta menundukkan kepala, mengangkat tangan, memanjatkan doa, dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Harapan dipanjatkan agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat, keberkahan, dan keselamatan bagi masyarakat.
Lebih dari sekedar menunggu turunnya air dari langit, kegiatan tersebut menjadi pengingat agar manusia kembali menyadari betapa besar ketergantungannya kepada Sang Pencipta.
Sebab terkadang, yang perlu dibasahi terlebih dahulu bukanlah tanah yang kering, melainkan hati yang mulai jauh dari Allah.
Shalat Istisqa bukan hanya tentang memohon hujan. Ia juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali hati dengan taubat, istighfar, doa, rasa syukur, dan kesadaran bahwa manusia adalah hamba yang senantiasa membutuhkan rahmat-Nya.
Melalui kegiatan tersebut, SMP Tahfidz Darul Qomar menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecerdasan, tetapi juga tentang bagaimana membentuk generasi yang berakhlak, rendah hati, peduli terhadap sesama, serta mampu menjaga alam sebagai amanah Allah SWT.
SMP Tahfidz Darul Qomar
Tahfidz Qur'an
“Kuatkan ikhtiar, langitkan doa, perbaiki diri, dan percayakan hasil kepada Allah.”
Penulis: Alim


