KARAWANG, JEJAK HUKUM – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah / 2026 Masehi telah tiba, membawa serta suasana khas yang selalu dinantikan umat Muslim. Di Kabupaten Karawang, khususnya wilayah Rengasdengklok, tradisi ngabuburit atau kegiatan menunggu waktu berbuka puasa menjadi momen istimewa yang menyatukan kebersamaan, semangat berbagi, dan geliat ekonomi lokal.
Setiap sore menjelang magrib, kawasan Rengasdengklok berubah menjadi pusat keramaian. Warga berbondong-bondong keluar rumah untuk menghabiskan waktu bersama teman, keluarga, bahkan rekan bisnis. Suasana hangat penuh keakraban terlihat di sejumlah lokasi favorit yang menjadi tujuan ngabuburit.
Salah satu ikon baru yang menjadi primadona adalah Taman Siska (RTH Rengasdengklok) yang terletak di Jalan Irigasi Warudoyong, Rengasdengklok Selatan. Taman yang dikenal juga dengan sebutan "Sisi Kali" ini kini menjelma menjadi ruang rekreasi favorit. Pengunjung dapat menikmati semilir angin sore, foto selfi dan bermain bersama sambil menanti beduk magrib.
Selain Taman Siska, Pendopo (Alun-Alun Rengasdengklok) di Jalan Raya Tugu Proklamasi juga tak pernah sepi. Lokasi ini sering dijadikan titik kumpul untuk berbuka puasa bersama atau bukber. Suasana kekeluargaan sangat kental terasa ketika warga duduk beralaskan tikar, menyantap hidangan berbuka yang dibawa dari rumah atau dibeli dari pedagang sekitar. Juga terdapat permainan anak-anak, komedi putar dll.
Fenomena menarik lainnya adalah menjamurnya para pedagang musiman. Di sepanjang Jalan Tugu Proklamasi Rengasdengklok mulai dari area kantor kecamatan lama, depan balai desa Rengasdngklok Selatan hingga area monumen Tugu Proklamasi. Termasuk di Jalan Taneuh Beureum, puluhan lapak dadakan berdiri. Para pedagang ini, yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM, menawarkan aneka jajanan takjil dan makanan ringan khas Ramadhan. Dari kolak pisang, es buah, gorengan, hingga aneka minuman segar, semua tersedia dengan harga terjangkau.
"Setiap tahun pasti ramai. Ini berkah Ramadhan bagi kami, dagangan laris manis," ujar seorang pedagang takjil di Jalan Taneuh Beureum.
Tidak hanya soal kuliner, tempat-tempat ini juga dipenuhi spot-spot menarik untuk berswafoto. Warga, terutama anak muda, memanfaatkan momen senja untuk mengabadikan suasana Ramadhan. Tak heran jika kawasan bermain dan berkumpul bersamakeluarga di Kecamatan Rengasdengklok pada bulan Ramadhan tahun ini ramai dikunjungi para pengunjung, baik warga Rengasdengklokmaupun warga dari daerah luar Rengasdengklok, terutama di hari libur.
Akar Tradisi yang Mendunia
Semaraknya kegiatan ngabuburit di Rengasdengklok merupakan cerminan dari sebuah tradisi yang berakar kuat dalam budaya Indonesia. Dari sisi bahasa, ngabuburit berasal dari kosakata Sunda yang telah digunakan sejak lama di wilayah Jawa Barat. Istilah ini berawal dari ungkapan ngalantung ngadagoan burit yang berarti bersantai sambil menanti sore hari, sebagaimana tercatat dalam Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS).
Seiring waktu, penggunaan istilah ini mengalami pergeseran makna dan semakin identik dengan kegiatan menunggu waktu berbuka puasa selama Ramadhan. Penggunaan kata ngabuburit mulai dikenal secara luas sejak dekade 1980-an, terutama di Kota Bandung, dan kerap digunakan dalam berbagai kegiatan kepemudaan. Kini, istilah tersebut telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia dan bahkan telah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kegiatan menunggu azan magrib pada bulan Ramadhan.
Dengan berbagai pilihan tempat nongkrong dan ngabuburit yang tersedia, Ramadhan 1447 H di Rengasdengklok menjadi bukti bahwa tradisi menunggu buka puasa bukan sekadar ritual. Aktivitas ini adalah perekat sosial yang memperkuat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus menghidupkan ekonomi lokal. Pemerintah setempat pun mengapresiasi semaraknya kegiatan ini, berharap geliat positif tersebut dapat terus tumbuh dan menjadi kekayaan budaya Ramadhan di Indonesia. (Eds)




