PARIS, JEJAK HUKUM – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungan penuh kepada Spanyol dalam menghadapi ancaman embargo dagang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dukungan ini disampaikan setelah Spanyol mengambil keputusan tegas melarang penggunaan pangkalan militernya untuk serangan udara AS terhadap Iran. Macron mendorong seluruh negara anggota Uni Eropa untuk bersatu dan mengusulkan pembentukan koalisi Eropa tanpa keterlibatan AS guna mengamankan Selat Hormuz.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa kini memasuki fase kritis. Macron secara resmi menyatakan solidaritasnya kepada Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, di tengah ancaman tekanan ekonomi dari pemerintahan Trump. Langkah ini menandai terbentuknya poros baru di Eropa yang menentang kebijakan militer AS di Timur Tengah.
Perselisihan diplomatik ini memuncak setelah Trump mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol pada Selasa (3/3/2026). Ancaman tersebut merupakan respons langsung atas keputusan Madrid yang melarang militer AS menggunakan pangkalan militer bersama di wilayahnya untuk melancarkan serangan udara ke Iran.
Menanggapi situasi tersebut, Macron segera menghubungi Sánchez pada Rabu (4/3/2026) malam untuk menyampaikan dukungannya. Dalam percakapan itu, Macron mendesak 27 negara anggota Uni Eropa untuk bersatu dan bersiap mengambil tindakan balasan terhadap Washington jika Trump benar-benar merealisasikan ancaman embargonya.
"Presiden mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Sánchez untuk mengekspresikan solidaritas Eropa menanggapi ancaman paksaan ekonomi yang menyasar Spanyol," ujar seorang pembantu senior kepresidenan Prancis, seperti dikutip dari Politico.
Prancis sendiri bukanlah pihak asing dalam menghadapi tekanan Trump. Sebelumnya, Macron menolak bergabung dalam skema "Board of Peace" untuk pembangunan kembali Gaza, yang kemudian dibalas Trump dengan ancaman tarif 200 persen terhadap produk anggur dan sampanye asal Prancis.
"Kita berada di kapal yang sama," tambah sumber tersebut.
Pergeseran Sikap Macron: Dari Sekutu Menjadi Kritikus
Awalnya, Prancis bersama Jerman dan Inggris (kelompok E3) bersikap lebih lunak terhadap AS dengan menyatakan komitmen untuk melindungi kepentingan sekutu di kawasan Teluk. Namun, pada Selasa malam, Macron mengubah haluan secara drastis dalam pidato televisinya. Ia dengan tegas menyatakan bahwa serangan AS ke Iran dilakukan di luar koridor hukum internasional.
"Serangan-serangan ini dilakukan di luar koridor hukum internasional, sesuatu yang tidak dapat kami setujui," tegas Macron.
Pernyataan tersebut mendekatkan posisi Paris dengan Madrid yang sejak awal menyebut intervensi militer AS sebagai pelanggaran hukum internasional yang berbahaya.
Menariknya, eskalasi konflik di Timur Tengah ini justru menjadi pengalihan isu yang menguntungkan bagi Sánchez dan Macron di tengah tekanan politik domestik yang tengah mereka hadapi. (Red)
