WASHINGTON, JEJAK HUKUM – Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk "No Kings" kembali mengguncang Amerika Serikat dengan skala yang terus meluas. Pada putaran ketiga akhir pekan lalu, lebih dari 3.300 aksi digelar serentak di seluruh 50 negara bagian, melibatkan jutaan warga yang menolak kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter.
Aksi terbesar pada Sabtu (28/3/2026) diperkirakan diikuti sekitar 8 juta peserta di lebih dari 50 kota besar, menjadikannya salah satu gelombang protes terbesar dalam sejarah modern AS. Kota-kota seperti New York, Washington DC, Los Angeles, Dallas, Philadelphia, dan Chicago menjadi pusat keramaian. Menariknya, sekitar dua pertiga aksi kini berlangsung di wilayah nonmetropolitan—naik hampir 40% dibanding mobilisasi perdana pada Juni 2025—termasuk di negara bagian basis Partai Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah.
Tuntutan dan Isu Utama
Para demonstran membawa poster bertuliskan:
· "We the People, Not the King" (Kami Rakyat, Bukan Raja)
· "Democracy, Not Monarchy" (Demokrasi, Bukan Monarki)
· "The Constitution Has No Throne" (Konstitusi Tidak Memiliki Takhta)
· "Hands off Iran" (Jangan ganggu Iran)
· "No New U.S. War in the Middle East" (Tidak ada perang baru AS di Timur Tengah)
Aksi ini dipicu oleh kritik terhadap kebijakan Trump, meliputi deportasi imigran agresif, dugaan pelanggaran hak sipil, kenaikan harga minyak dan biaya hidup, serta keterlibatan militer AS dalam konflik Iran yang dinilai melanggar Konstitusi. Banyak demonstran menyerukan penghentian perang Iran dan mendesak pemakzulan Trump.
Dukungan Tokoh Publik
Di Saint Paul, Gubernur Minnesota Tim Walz menegaskan gerakan ini didorong oleh nilai demokrasi. "Mereka menyebut kita radikal. Benar, kita diradikalisasi oleh belas kasih, kesopanan, dan demokrasi untuk melawan otoritarianisme," ujarnya.
Senator Bernie Sanders turut berpidato: "Kita tidak akan membiarkan negara ini jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki. Rakyat yang akan berkuasa."
Di New York, aktor Robert De Niro menyebut Trump sebagai ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan AS di hadapan puluhan ribu demonstran yang memenuhi Manhattan.
Ketegangan dan Bentrokan
Sebagian besar aksi berlangsung damai, namun ketegangan terjadi di sejumlah titik. Di Dallas, bentrokan terjadi antara demonstran dan kelompok tandingan pimpinan Enrique Tarrio. Di Los Angeles, aparat menggunakan gas air mata dan menahan sejumlah peserta setelah terjadi bentrokan di sekitar gedung federal. Dua petugas DHS dilaporkan terluka akibat lemparan benda keras.
Dampak Politik dan Jajak Pendapat
Gelombang protes ini terjadi menjelang pemilu paruh waktu November yang akan menentukan komposisi Kongres. Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, tingkat persetujuan Trump kini turun ke 36%—terendah sejak kembali menjabat.
Gerakan "No Kings" pertama kali digelar pada 14 Juni 2025 dan terus membesar dengan jutaan peserta dalam tiap gelombang. Aksi terbaru juga mendapat solidaritas dari sejumlah kota di Eropa. Fenomena ini dinilai dapat mempengaruhi opini publik, kebijakan luar negeri AS, serta peta kekuatan politik ke depan.
Salah satu demonstran di Dallas menyatakan, "Saya tidak bisa lagi diam demi masa depan anak-anak saya." Dikutip dari berbagai sumber. (Red)



