PONTIANAK, JEJAK HUKUM – Nama Josepha, siswi SMAN 1 Pontianak, mendadak ramai diperbincangkan publik setelah keberaniannya menyampaikan protes dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI viral di media sosial. Di tengah sorotan tersebut, profesi sang ayah turut menjadi perhatian netizen karena dinilai ikut membentuk karakter tegas dan percaya diri Josepha.
Video momen protes Josepha dalam kompetisi nasional itu beredar luas di berbagai platform media sosial. Dalam tayangan tersebut, Josepha terlihat tetap tenang saat menyampaikan keberatan terkait jalannya perlombaan yang dianggap merugikan timnya. Sikap berani siswi SMAN 1 Pontianak itu menuai beragam respons dari publik. Banyak yang memberikan dukungan dan pujian karena Josepha dinilai mampu menyampaikan pendapat secara terbuka di hadapan dewan juri dan peserta lain.
Di balik viralnya kejadian tersebut, sosok ayah Josepha ikut menjadi sorotan. Publik mulai penasaran dengan latar belakang keluarga Josepha, termasuk profesi sang ayah yang disebut memiliki posisi cukup mentereng. Belakangan diketahui, ayah Josepha memiliki jabatan strategis dan dikenal di lingkungan kerjanya. Fakta tersebut membuat publik semakin penasaran terhadap sosok keluarga peserta yang menjadi perhatian dalam ajang nasional itu.
Ayah Josepha bernama Andre Kuncoro. Ia bekerja sebagai Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan. Dilihat dari akun Facebook-nya, Andre pernah bekerja di sejumlah tempat:
✓ PNPM Mandiri Pedesaan (2007)
✓ Koordinator TPP Kapuas Hulu P3MD Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi (2021)
✓ Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi (2021)
✓ Staf Ahli Pertanian Lembaga Gemawan
Kronologi Keberanian Josepha
Sebelumnya, Josepha yang karib disapa Ocha menjadi perbincangan karena keberaniannya menyuarakan protes terhadap juri yang menyalahkan jawabannya. Ocha sudah menjawab dengan benar, namun dinilai salah oleh juri. Tapi ketika kelompok lain menjawab sama persis dengan Ocha, justru dinilai benar. Tindakan tersebut membuat banyak masyarakat menaruh simpati pada Ocha, termasuk orang tuanya.
"Publik Indonesia tidak hanya dipertontonkan acara lomba, tapi bagaimana seorang anak kecil dengan gagah berani menyuarakan keadilan dan kebenaran," kata Andre Kuncoro.
Menurutnya, menang atau kalah dalam lomba merupakan bonus. Yang terpenting, anaknya mampu melewati semua proses. "Berkah yang luar biasa dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Dalam lomba, sportivitas harus dijunjung tinggi. Menang atau kalah itu biasa, yang penting prosesnya," ujarnya. Ia berharap tindakan Ocha dapat menginspirasi untuk berani menyuarakan keadilan. "Kebenaran tetap harus jadi kebenaran, dan keadilan harus tetap dijaga," katanya.
Sosok Ocha di Mata Ayahnya
Andre menceritakan Ocha sebagai pribadi yang getol sekali belajar. "Ocha itu nggak banyak bicara. Dia lebih senang berada di kamar dengan dunianya sendiri, dengan laptopnya, belajar," katanya. Menurut Andre, Ocha sering kali belajar sampai larut malam. Sang ibu bahkan selalu mengingatkan untuk istirahat. "Kadang tidak kenal waktu sampai tengah malam. Ibunya sering mengingatkan, 'Dek tidur'. Tapi kalau belum selesai, dia belum mau tidur," katanya.
Sebagai orang tua, Andre mengaku beberapa kali mencoba mengajak Ocha bersantai atau bermain bersama teman-temannya. Namun ajakan itu sering ditolak karena dianggap membuang waktu. "Kita suruh main dengan temannya juga nggak mau. Katanya buang-buang waktu," ujarnya.
Aktif Membina Anak-Anak
Meski lebih senang belajar, Ocha ternyata aktif mengikuti kegiatan sosial. Andre menyebut putrinya rutin membantu membina anak-anak di kawasan Taman Catur Untan. Di sana, Ocha membantu kegiatan edukasi seperti mewarnai, melukis, hingga mengajarkan pelajaran kepada anak-anak kecil. "Biasanya di Taman Catur itu, membina adik-adik kecil, mewarnai, melukis, lalu mengajarkan pelajaran juga," ungkapnya.
Andre mengaku keluarga terkadang khawatir melihat kebiasaan belajar Ocha yang sangat intens. Namun, ia menilai putrinya memang menikmati proses tersebut. "Ocha hobinya memang di depan laptop belajar. Kadang kami orang tua juga khawatir, ini anak nggak stres. Tapi memang dia suka," katanya.
Soal Beasiswa dan Masa Depan Ocha
Terkait tawaran beasiswa kuliah yang diterima Ocha setelah polemik LCC 4 Pilar viral, Andre mengatakan keluarga belum membahasnya lebih jauh. Meski begitu, ia memastikan akan mendukung keputusan apa pun yang dipilih putrinya nanti. "Kalau memang Ocha mau, kami dukung. Kemungkinan nanti kursus Mandarin untuk persiapan," katanya.
Kontroversi Beasiswa untuk Josepha
TikToker Bima Yudho blak-blakan menyebut tawaran beasiswa ke China untuk Josepha Alexandra terkesan janggal. Beasiswa tersebut diberikan setelah Josepha viral karena berani memprotes keputusan juri saat final LCC 4 Pilar MPR RI.
Usai polemik itu viral, anggota MPR RI Rifqinizamy Karsayuda menawarkan beasiswa kuliah gratis ke China untuk Josepha. "Kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China," ujarnya. Tak hanya itu, Rifqi juga menjanjikan pekerjaan bagi Josepha setelah lulus kuliah.
Namun, konten kreator TikTok Bima Yudho justru mencium adanya kejanggalan dari tawaran tersebut. Ia bahkan menyarankan Josepha agar tidak langsung menerima beasiswa itu. "Kalau kata gua hati-hati, jangan langsung lu ambil atau jangan lu ambil," katanya.
Menurut Bima, tawaran beasiswa tersebut terkesan sebagai bagian dari upaya meredam polemik yang terjadi. "Yang mana kita tahu bahwa agenda ini itu untuk memanage communication crisis yang ada di Lomba Cerdas Cermat MPR," katanya.
Bima juga mempertanyakan alasan hanya Josepha yang mendapat beasiswa, sementara anggota regu C lainnya tidak mendapatkan hal serupa. Selain itu, ia menilai jurusan yang kemungkinan diminati Josepha seperti komunikasi, politik, atau seni justru kurang cocok jika kuliah di China. "Gua yakin anak kayak lu yang udah ikut cerdas cermat pasti tertariknya ke art, komunikasi, politik, yang mana China gak bagus untuk bidang ini," lanjutnya.
Bima pun menyarankan Josepha mencari beasiswa langsung dari kampus atau pemerintah negara tujuan, bukan menerima tawaran dari pihak MPR. "Mending kalau kata gua cari eksternal beasiswa dari negara tujuannya langsung, government atau dari kampusnya langsung. Semangat Josepha, jangan mau dijadikan alat politik," katanya. (Red)
