KARAWANG, JEJAK HUKUM – Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia menjadi ajang pencarian bakat terbaik bagi pelajar di Karawang. Ajang ini bertujuan untuk berkompetisi sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis sebelum melaju ke tingkat provinsi.
Kompetisi LDBI tersebut digelar di SMA Negeri 1 Karawang pada Senin (25/5/2026) dan diikuti oleh 18 peserta dari SMA negeri maupun swasta se-Kabupaten Karawang.
Guru Bahasa Indonesia sekaligus panitia kegiatan, Riski, menjelaskan bahwa LDBI merupakan program nasional dari Kementerian Pendidikan melalui Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
"Untuk berpartisipasi di LDBI ini, proses pendaftarannya memakan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan dan hanya dilakukan melalui situs web resmi," ujarnya.
Menurut Riski, penilaian dalam LDBI meliputi kualitas argumentasi, kemampuan berbicara, serta performa peserta dalam menyampaikan pendapat secara terstruktur dan meyakinkan. Kompetisi ini dinilai oleh sembilan juri yang merupakan alumni lomba debat dan pernah berpartisipasi di tingkat provinsi.
"Tadi telah diumumkan juara 1, 2, dan 3. Para pemenang inilah yang nantinya akan mewakili Karawang di Bandung untuk tingkat provinsi," katanya.
Adapun sekolah yang berhasil meloloskan perwakilannya, yakni SMA IT Mentari Ilmu, SMA Negeri 5 Karawang, dan SMA Negeri 4 Karawang.
Riski menuturkan, tema LDBI tahun ini mengusung tajuk "Bernalar Kritis, Cerdas Berbahasa, Siap Mengubah Dunia." Ia mengaku terkesan dengan kualitas topik debat yang diangkat dalam perlombaan tahun ini, yang dinilai cukup berat untuk level siswa SMA.
"Saya cukup takjub karena topik yang diperdebatkan tidak umum, seperti feminisme, mens rea, filsafat, hingga kecerdasan buatan," ujarnya.
Menurutnya, para peserta LDBI telah menunjukkan kemampuan bernalar kritis dan kecerdasan linguistik yang sangat baik dalam menyikapi berbagai isu kompleks. "Apalagi topik debat yang diberikan cukup berat untuk level siswa SMA, tapi mereka mampu menjawab dengan sangat baik," tuturnya.
Riski juga menjelaskan adanya perubahan sistem pertandingan dalam LDBI tahun ini. Jika sebelumnya menggunakan sistem gugur, kini kompetisi menerapkan sistem peringkat yang memberi kesempatan lebih luas bagi peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dengan tiga ronde pertandingan, peserta dapat mengumpulkan poin sebelum memasuki babak semifinal dan final.
"Berbeda dengan tahun lalu, ketika peserta kalah satu kali langsung gugur. Tahun ini sistem peringkat membuat kompetisi lebih kompetitif dan menarik," katanya.
Ia menambahkan, empat besar peserta ditentukan berdasarkan peringkat tertinggi tanpa perebutan juara empat. "Final mempertemukan peserta peringkat satu dan dua, lalu langsung ditentukan juara 1, 2, dan 3," jelasnya.
Melalui LDBI ini, pihak penyelenggara berharap perwakilan Karawang dapat melangkah lebih jauh dan bersaing hingga tingkat nasional. "Harapan saya, perwakilan Karawang tidak hanya berhenti di tingkat provinsi, tetapi juga mampu menembus tingkat nasional," pungkasnya. (Red)
