KARAWANG, JEJAK HUKUM – Sebulan terakhir ini, kenyamanan warga masyarakat Dusun Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Selatan, sedikit terusik dengan beredarnya voice note WhatsApp atau pesan suara bernada arogan dan melecehkan, yang merendahkan harga diri para juru pelihara (Jupel) Situs Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok. Hal ini mengakibatkan gejolak emosi di kalangan warga, terutama keluarga besar para jupel.
Tim Liputan JKH, pada hari Jumat (02/10), mencoba mengumpulkan keterangan di sebuah warung di Bojong Tugu. NH (35), pemilik warung tersebut, menceritakan bahwa saudaranya yang bekerja sebagai Jupel sedang diusik oleh seseorang yang diduga bernama H. Darwis, yang ingin mendepak saudaranya dari pekerjaannya di Tugu itu. Pancaran emosi tampak dari wajahnya ketika kami jumpai.
"Salah naon dulur aing ka si Darwis, nepika rek dikaluar-kaluarkeun ti pagaweanna, laporan ka saha meureun di WhatsApp nyebutna teh pa haji-pa haji wae da, urang pemda meureun, teuing urang mana, ari manehna saha? Urang mana manehna? Wani-wani ngusir urang dieu. Cicing di Tugu sebagai naon coba, nepi ka nitah batur eureun gawe di Tugu. Dibejakeun siah ka dulur-dulur aing, can apaleun meureun adat kaluarga aing," tuturnya dalam Bahasa Sunda, sambil nafas terengah-engah menahan emosi.
Tak lama kemudian, muncullah seorang pembeli di warung tersebut, seorang sepuh warga Bojong Tugu, dan langsung menenangkan pemilik warung. Ialah DM (65), yang membenarkan apa yang dikatakan NH. Siapa yang tidak akan marah ketika saudaranya hendak diberhentikan dari pekerjaannya?
"Ya begitulah kiranya, perasaan seorang saudara guna membela saudaranya yang sedang bekerja, tiba-tiba minta diberhentikan oleh orang lain dengan cara laporan palsu ke atasannya di Karawang. Padahal saudaranya rajin membersihkan area Tugu, merawat, menyiram, dan rajin absen tiap hari ke Dinasnya. Seharusnya orang Dinas cepat bertindak membereskan masalah ini. Untungnya, tukang warung dan saudara-saudaranya masih memandang saya sebagai orang tua, terbukti mereka bisa saya redam, saya nasihati, dan diarahkan untuk meluapkan kegelisahannya lewat pengumpulan tanda tangan yang tengah menyebar saja, sebagai bentuk dukungan bagi para Jupel," kata beliau kepada kami, seraya mengucap istigfar.
Lalu, orang tua tersebut membuka ponsel dan memperlihatkan isi pesan suara tersebut kepada kami. Menurutnya, pesan suara itu sudah menyebar luas di sebagian grup WhatsApp. Terdengar suara yang agak arogan, berisi laporan permintaan pemecatan semua Jupel dan seolah-olah ingin menguasai Tugu tersebut seorang diri.
Sebelum Tim Liputan meninggalkan warung, belasan anak muda menghampiri kami dengan wajah penuh geram. Mereka menanyakan di mana posisi H. Darwis sekarang, dan meluapkan emosi di depan kami.
"Maaf yeuh.. Itu, yang namanya H. Darwis orang mana sih? Berani amat mau menguasai Tugu, punya jabatan apa dia? Punya beking apa sih?" kata salah satu dari mereka.
"Bubarkeunlah paguyuban Tugu teh, musingkeun, tuman," teriak temannya.
"Usir si Darwis ti Tugu, mangandeuh tah," riuh suara mereka.
Masih banyak ucapan dan teriakan yang kami dengar dari anak-anak muda tersebut, meluapkan emosi dan perasaan yang memuncak kepada kami yang tengah meliput di lapangan. Kembali, orang tua di warung itu menenangkan mereka, dan satu per satu meminta maaf serta menyalami kami, kemudian berlalu dari hadapan kami.
Kami Tim Liputan JKH berharap sesuai permintaan orang tua tadi, peran seorang sepuh yang mengayomi warganya, agar pihak Pemerintah Kabupaten Karawang dalam hal ini Dinas terkait untuk segera mengambil sikap. Jangan biarkan permasalahan di Tugu ini berlarut-larut, karena dapat menimbulkan masalah lainnya, terutama keharmonisan, keamanan dan kenyamanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (Eds)
